Master Hipnotis, Pelatihan Hipnotis, Hipnoterapi

 

Sept 04, 2007 22:23:13 WIB
No Place Like Home



Oleh Saputra

No place like home, apa betul? Saya butuh lebih dari 10 tahun tinggal di Australia untuk bisa mengertinya. Dalam kurun waktu itu secara tak sadar saya selalu menggunakan kata pulang bila travel ke Indonesia. Saya kangen makan mie tek tek didepan rumah ortu, kangen makan gudeg Kranggan Jogya, jalan jalan di Malioboro, ketemu teman teman semasa kecil dsb dsbnya. Inilah suasana rumah saya dulu, kenangan manis yang tak mungkin terlupakan. Akibatnya saya sering home sick bila sampai beberapa tahun tidak pulang ke Indonesia, perasaan seperti kurang sesuatu atau sepertinya ada sesuatu yang missing.

Dari perasaan (emosi)lack of something ini mudah timbul dan berkembang negative emotion lainnya misalnya loneliness, wah enggak krasan, itu lho kotanya sepi sepi banget ( padahal yang sepi hatinya, nothing wrong dengan kotanya), regret wah kepingin re-uni dengan temen2 nih,regret wah gelo aku, pindah kenenegri ini, jealousy/envy, wah coba enggak pindah, akau sudah jadi oarng di Indo,ngiri akau ama temen2 ku yg masih tinggal di Indo, anger, hatred, rage, marah kepada diri sendiri/ menyalahkan diri sendiri, marah kepada suami/ istri yang mengajak indah dulu, lha gara gara ngikutin suami/istri aja, sialan lue, greedy, eh mumpung tinggal di lauran negeri, enggak ada oarng yang tau gue mau.......dsbnya dsbnya. Selama masih didonimasi oleh emosi negatif ini seseorang tidak akan bisa berhasil hidup sukses diluar negeri.

Place is a particular point on the earth's surface; an identifiable location for a situation imbued with human values. Place is thus not just a location, but a particular one. What makes it particular is that it is imbued/teristimewa with (my) human values., jadi Jogya bagi saya bukan sekedar salah satu kota di pulau Jawa saja, a particular point on the earth’surface tapi juga place/ tempat yang mempunyai makna dan harga/ value tersendiri, imbued with my human value. Sehingga tidaklah heran bila kebanyakan orang senang sekali menceritakan kenangan lamanya semasa kecil, kuliah, berpacaran dsbnya.

Tapi apa betul (reality)Jogya itu place dimana home saya berada? , wong saya, istri tinggal di Canberra. Bagi saya Jogya bukan place tapi space, begitu jawabnya. Jadi (actually) ternyata Jogya hanya salah satu space dalam perjalanan hidup saya, dengan filosofi ini bagi saya tidak valid lagi istilah no place like home, tidak valid lagi kata pulang, tidak valid lagi istilah home sick. Tiga istilah yang menyebabkan kebanyakan orang tidak bisa krasan tinggal di luar negeri. Lalu, kalau tidak krasan bagaimana seseorang bisa maju dan sukses berhasil!.

Penggunaan kata space lebih tepat dan fleksibel karena ada dalam MEST universe dan juga dalam ES universe, sedangkan place hanya dalam MEST universe saja. Untuk pergi dari space yang satu ke space yang lain tidak diperlukan physical effort, lain halnya dengan naik plane dari Canberra ke London. Bisa diibaratkan perbedaan antara space-craft dan aero-craft (airoplane), dimana terbangnya aeroplane selalu dipengaruhi oleh gravitasi bumi (emosi) sehingga ada istilah setingi tinginya burung terbang akan kembali kesarangnya lagi. Bukankah kebanyakan cita cita orang Indonesia yang bermukim di luar negeri adalah bila sudah pensiun akan pulang kandang. Apakah ini real? Saya dulu kepingin setengah mati makan mie tek tek didepan rumah ortu di Jogya tapi waktu ke Jogya beneran dan disuguhi mie tek tek ternyata saya tidak suka lagi, karena ternyata selera makan saya sudah berubah. Begitu pula saya tidak bisa lagi merasakan senangnya jalan jalan keluar masuk kampung di Jogya, saya lebih bisa menikmati jalan keliling danau didekat rumah.

Management of my past-present-future time , begitu istilahnya. Hanya bisa bila kata place diganti jadi space, Space is a mental attitude of our self-imposed boundary lines , bagaikan rak buku yang besar kecilnya tergantung dari kita sendiri.Ciri khas dari kebanyakan orang yang sukses hidupny adalah mereka yang pandai mengatur waktunya, Klik Goodbye My Love dan sekali lagi ini hanya mungkin bila dia bisa mengganti kata place dengan space dalam kehidupan sehari harinya. Bisa menempatkan, meng-katagorikan masa lampau dan menyediakan space bagi masa datang, persis seperti rak buku dengan ratusan/ ribuan buku, harus disusun rapi teratur, siap setiap saat bila dibutuhkan informasinya. Masa lampau adalah pelajaran hidup saya yang berharga untuk menyusun rencana masa depan (future time) dan ini baru bisa efisien bila saya secara sadar bisa meng-eliminer faktor emosinya.

Space sebagai tempat sumber informasi, sedangkan place adalah tempat yang terkontaminasi dengan emosi. Perjalanan (hidup) saya akan terganggu dan tidak bisa menikmati indahnya pemandangan (present time) bila saya selalu (emosionil) menengok kebelakang.(past time). Orang yang bahagia adalah orang yang bisa menikmati (present time) hidupnya.

Kembali Ke Halaman Utama - Koleksi Artikel Politik Indonesia

           


Holistic Solution Center | Hypnosis Association | EFT Indonesia | Psikoterapis | Bawah Sadar | Belajar Hipnotis | Layanan Hipnoterapi | Belajar Hipnoterapi | Buku Hipnotis Gratis | Hypnosis Training | Organisasi Hipnosis | Master Hipnotis | Solusi Salah Ketik | Fakir Magic | Sekolah Sulap | Psikologi Indonesia | Terapi Musik | Aktivasi Otak | Neurotherapy | Pengobatan Herbal | Artikel Kesehatan | Pakar Seks | Terapi Seks | Master Seks | Obat Ejakulasi Dini | Perusahaan Furniture | Master Indonesia | Toko Barang Antik | Terapi Tertawa | Kota Jepara | Pelatihan Internet Marketing