[logo-kop.htm]

 

 Catatan Penting dari  Forum Komunitas:
Membongkar Praktek Incest: Fakta tentang kekerasan seksual
terhadap Anak Perempuan
dalam lingkup Rumah Tangga / Domestik


LBH APIK Jakarta – Komunitas Kampung Rawa

Kampung Rawa, Minggu, 4 Mei 2003

 

Pembahasan lebih mendalam dan Perkembangan Diskusi

 1. Ilustrasi masalah :

 Sekarang ini banyak istri yang bekerja sebagai TKW selama bertahun-tahun, untuk memenuhi kebutuhan seksualnya para suami  harus mungkin dapat ke tempat prostitusi atau ke diskotik untuk membeli jasa seks. Namun, bagi orang miskin yang tidak terpuaskan yang rata-rata terjadi adalah tidak ada pilihan untuk meyalurkan hubungan seksnya kecuali kepada anggota keluarga.

 

      2. Perkembangan Diskusi (Tanya Jawab dan Tanggapan)  :

No

Fasilitator

Peserta

1.

Pertanyaan : Mengapa incest terjadi ?

Jawaban:
Karena kurang iman, kurang pendidikan agama, isteri tidak dapat memuaskan suami, kurang komunikasi dengan tetangga/ kurang bergaul, tidak ada perhatian dari ibu/ orang tua;

2.

Apakah semua orang punya keinginan untuk melakukan hubungan seks ?

Komentar Fasilitator:
Keinginan untuk melakukan hubungan seks adalah normal, menjadi tidak normal apabila hubungan itu dilakukan oleh ayah kepada anaknya.  Jadi yang salah adalah cara menyalurkannya.

Tanggapan peserta :
Suami harus bertanggung jawab terhadap keuangan keluarga (istri jangan dijinkan pergi bekerja keluar negeri);

3.

Apakah ada alasan lain yang menyebabkan hal itu terjadi? apakah selalu salah pelaku atau salah korban?

Komentar Fasilitator:
Biasanya yang melakukan adalah orang-orang yang lebih berkuasa kepada yang lebih lemah (laki-laki lebih berkuasa dari pada perempuan; orang tua lebih berkuasa daripada anak)

 

 

Tanggapan Dr. Gulardi/ RSCM  (berkaitan dengan KesPro anak)  

No

Isu yang terkait

Tanggapan 

1

Kehamilan

bisa terjadi tapi mungkin tidak banyak,  jika usia 5-6 thn dan belum haid maka tidak akan hamil, Jika ada bibit penyakit maka anak bisa tidak normal (tapi sangat kecil)

2

Kejiwaan

merupakan hal yang paling penting. Korban akan bertemu lagi dengan pelaku. Dan, dari kasus yang ada korban biasanya malu menghadapi kekerasan seksual yang dialaminya.

3

Pengobatan

adalah aspek yang penting. Korban jangan sampai  hamil dan jika si pelaku sering ke pelacuran maka kemungkinan anak akan tertular

4

Kemungkinan pengulangan

90% peristiwa inses terulang kembali. Awalnya korban tidak mau kemudian terpaksa melakukan hubungan seksual.  Akan tetapi, bukan berarti suka sama suka melainkan seperti ‘terbius’.

5

Rekomendasi

a.    Pendidikan seks penting dimulai dari keluarga, diungkapkan bahwa hubungan inses itu dilarang;

b.    Berpuasa untuk menahan hasrat seksual.

c.     Masalah incest kompleks, jadi pendekatannya harus manusiawi tidak dengan membunuh atau membakar.

 

Tanggapan LBH APIK Jakarta :

Selama ini poligami dan prostitusi merebak di masyarakat tapi kenapa inses tetap terjadi? Sebab yang paling mengakar adalah adanya kepercayaan sekarang ini bahwa perempuan harus melayani dan laki-laki menyalurkan.  Ada pemikiran perempuan harus dirumah dan melayani; Perempuan akan disalahkan ketika tidak dapat memuaskan laki-laki.  Jadi sebab terjadinya incest adalah :

    1. Faktor usia :  pikiran anak-anak terbatas dan memiliki ketakutan
    2. Jenis kelamin:  Perempuan dan laki-laki hubungannya tidak setara; laki-laki lebih berkuasa
    3. Terjadi di wilayah rumah tangga.

Inses berbeda dengan perkosaan yang umum karena lingkupnya domestik/ rumah tangga dan pelakunya dekat. Korban akan mengalami ketakutan untuk melaporkan pelaku sehingga inses dapat berlangsung lama.


Pengalaman penanganan kasus incest (Ibu Evi) :

Keponakan ibu Evi diancam dan dipaksa oleh ayahnya untuk melakukan hubungan seksual, perkosaan tersebut  berlangsung selama 1 tahun.  Upaya yang dilakukan oleh ibu Evi adalah   mendekati keponakannya, dan menyebar foto pelaku (bapaknya) yang ditempeli kata ‘wanted’ disepanjang gang. Sayangnya , Ibu si korban menolak untuk mengangkat kasus ini bahkan ‘membela’ pelaku (suaminya). Kemudian, Ibu Evi melapor ke Polsek namun tidak ada perkembangan selama 7 bulan (Pihak Polsek mengatakan  pelaku/ tersangka  masuk DPO  akan tetapi polisi tidak berupaya untuk menangkapnya dan selalu  beralasan tersangka tidak diketahui keberadaannya).  Akhirnya, pelaku dilaporkan ke Komdak/ Polda (berdasarkan laporan ke Polsek).  Pada saat pelaku dirumah, anak ibu evi menelpon RT dan Polisi. Polisi pun menggerebek rumah pelaku (ketika akan diggrebek ibu korban masih hendak  melindungi pelaku bahkan dikabarkan ia menyogok jaksa  untuk memperjuangkan suaminya). Di tingkat Pengadilan, pelaku dihukum 8 tahun penjara.  


Tanggapan LBH APIK Jakarta :

Dalam penyelesaian kasus-kasus seperti inses, harus dilakukan ‘terobosan-terobosan’ ketika proses hukum tidak berjalan dengan semestinya. Seperti tindakan ibu Evi ‘mengadukan’ perihal kasusnya yang tidak direspons dan ditindaklanjuti ke ‘Halo Polisi’, sejak itu kasusnya lebih direspons.  Perlindungan hukum smemang tidak ‘gratis’, yang harus dipikirkan adalah  bagaimana supaya biaya tidak ditanggung oleh satu orang. Berarti,  perlu adanya kerja sama dan saling mendukung-misalnya- sesama anggota keluarga. Penyelesaian kasus ‘jalanan’ di masyarakat yang marak seperti  ditelanjangi dan dibakar harus dibahas. Perhatian harus diberikan kepada korban jadi jangan fokus pada pelaku  dan jangan sampai korban dan pelaku diarak. Dengan penyelesaian seperti itu, tidak akan menyelesaikan persoalan tetapi melahirkan persoalan baru (masyarakat jadi pelaku kekerasan). 
 

Upaya Pencegahan : dengan memberikan pendidikan, yang harus diangkat adalah bahwa inses bukan persoalan pribadi. Juga, bisa dengan melakukan diskusi-diskusi, sosialisasi ke ibu-ibu mengenai apa yang harus dilakukan. 

 

            Diskusi lebih jauh tentang Pencegahan incest 

No

Pertanyaan Fasilitator :

Tanggapan Peserta :

1.

Pencegahan dapat dilakukan di tingkat keluarga dan ditingkat kampung, bagaimana melakukan upaya pencegahan tersebut?

 

Pencegahan dapat dilakukan :

-      Dengan mengadakan kegiatan yang positif (diberikan kesibukan), dengan ada kegiatan maka pikiran ‘seperti itu’  bisa dihindari;

-      Perlu ada pengetahuan;

-      Memaksimalkan majelis taklim;

-      Perlu komunikasi supaya anak menjadi terbuka (keterbukaan di keluarga);

2.

Apakah inses itu masalah pribadi ?

Ibu Nurhayati: inses bukan masalah pribadi karena merusak segala-galanya

3.

Apakah perlu melakukan jaringan dengan kawan-kawan lain yang biasa menangani masalah inses?

Perlu, untuk memecahkan masalah.

4.

Tanggapan lain dari Peserta?

Perlu sosialisasi dampak-dampak/akibat inses.

Kembali ke menu Incest

Kembali Ke Halaman Utama

       


Holistic Solution Center | Hypnosis Association | EFT Indonesia | Psikoterapis | Bawah Sadar | Belajar Hipnotis | Layanan Hipnoterapi | Belajar Hipnoterapi | Buku Hipnotis Gratis | Hypnosis Training | Organisasi Hipnosis | Master Hipnotis | Solusi Salah Ketik | Fakir Magic | Sekolah Sulap | Psikologi Indonesia | Terapi Musik | Aktivasi Otak | Neurotherapy | Pengobatan Herbal | Artikel Kesehatan | Pakar Seks | Terapi Seks | Master Seks | Obat Ejakulasi Dini | Perusahaan Furniture | Master Indonesia | Toko Barang Antik | Terapi Tertawa | Kota Jepara | Pelatihan Internet Marketing