[kop-atas.htm]
 [kanan.htm]

 

 

 

   ◊ Home>Kisah>Pelecehan seksual

 

 

Sulitnya kugapai keadilan...
.

Sedari kecil aku memang mempunyai kebiasan yang berbeda dengan anak perempuan pada umumnya. Penampilanku agak tomboy (stereotype atau pelabelan untuk perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki, red) dan lebih senang berteman dengan laki-laki

 

Sekolah saja, aku mengambil kejuruan tehnik atau STM yang notabene siswanya kebanyakan laki-laki. Setelah tamat STM aku melanjutkan kuliah mengambil jurusan tehnik bangunan dan akhirnya aku lulus dengan gelar sarjana tehnik. Berbekal latar belakang pendidikan ini, aku diterima bekerja di salah satu perusahaan Real Estate & Developer yang berada di bawah naungan Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI). Aku ditempatkan di bagian pembangunan dan di bagian ini aku merupakan satu-satunya pegawai perempuan. 

 

Aku sangat menyukai dan mencintai pekerjaanku karena sesuai dengan latar belakang pendidikanku dan tentu saja minatku. Walaupun aku berada di tengah-tengah pegawai laki-laki, namun aku tidak merasakan kesulitan karena sejak kecil aku memang terbiasa bergaul dengan laki-laki. Awal aku bergabung dengan Perusahaan, aku sering diajak berdiskusi oleh atasanku tentang pekerjaan atau proyek yang sedang kami kerjakan. Ide-ide dan pendapatku sering didengar bahkan diimplementasikan ke dalam pekerjaan kami. Aku merasa senang dan semakin mencintai pekerjaanku. Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama, atasanku mulai memperlakukanku sebagai “perempuan”. Dia mulai mengusik aku dengan cara mengelus rambut dan memegang pinggangku, memperlihatkan foto-foto porno kepadaku, mengatakan kalau dirinya sedang terangsang dan ingin menciumku.

 

Aku sangat shock dan terpukul dengan tindakan atasanku tersebut. Aku tidak pernah menyangka, atasanku akan memperlakukan aku demikian rendah dan hinanya. Mendapatkan perlakuan seperti itu, aku pergi meninggalkannya dan berusaha menghindar untuk beberapa hari. Dia mulai mencari-cari kesalahanku dan berusaha memanggilku agar aku datang menghadap dirinya. Saat aku memenuhi panggilannya, dia mengancam agar aku tidak menceritakan kejadian ini kepada orang lain. Bahkan pernah suatu kali, dia berusaha mengancamku dengan cara memperlihatkan golok dihadapanku dan beberapa rekan lain; “apapun yang saya perbuat di sini dan apapun yang saya lakukan di sini, jangan pernah terdengar oleh orang lain atau kalian akan berhadapan dengan saya”.

 

Karena terus menerus mengalami pelecehan dan ancaman dari atasanku, aku jadi merasa tidak nyaman untuk bekerja. Aku putuskan untuk mengadukan perbuatan atasanku kepada bagian Personalia. Dua hari kemudian, Personalia memindahkanku ke bagian Perencanaan. Kepindahanku ke bagian perencanaan ternyata membuat atasanku merasa dilangkahi. Iapun menghadap ke bagian Personalia dan menceritakan kepada Personalia bahwa aku memiliki prestasi kerja yang jelek. Bagian Personalia rupanya termakan dengan laporan palsunya dan dia kemudian memintaku untuk segera membuat surat pengunduran diri dan akan diberikan pesangon sesuai dengan peraturan yang berlaku.

 

Tentu saja aku tidak bisa begitu saja memenuhi permintaan Personalia. Aku memutuskan untuk tetap bertahan karena aku merasa yakin bahwa apa yang dimintanya bukan suatu penyelesaian yang tepat. Seharusnya sebagai korban pelecehan seksual, aku mendapatkan perlindungan agar aku tetap merasa aman dalam bekerja. Tetapi, Personalia malah membela atasanku dan menekan diriku. Aku juga tak habis mengerti, mengapa perusahaan tidak pernah berusaha melakukan upaya penyelesaian yang baik bagi aku sebagai karyawannya. Aku tidak pernah dipanggil untuk menggali lebih dalam persoalanku. Perusahaan hanya melihat dan percaya pada 'siapa' yang mengatakan, bukan apa persoalannya. Melihat kekerasan sikapku untuk tetap bertahan dan tidak bersedia mengundurkan diri, bagian Manajemen kemudian mencari upaya lain agar aku tidak betah, yakni dengan cara meminta kepada atasanku yang baru untuk tidak memberikan pekerjaan kepadaku. Padahal, awalnya, atasanku yang baru, —seorang perempuan dan ternyata pernah mengalami pelecehan seksual dari atasanku yang lama—, berpihak kepadaku. Tetapi setelah seluruh pimpinan, staf dan karyawan Perusahaan memboikot keberadaanku, akhirnya dia mengikuti kemauan mereka untuk tidak lagi memberikan pekerjaan kepadaku dan menjauhiku. Mungkin dia juga ketakutan nantinya akan mengalami hal yang serupa denganku, ditekan oleh pihak manajemen dan dimusuhi oleh karyawan kantor.

Gagal menghadapi pihak manajemen dalam menyelesaikan kasusku, atas saran suami, aku mendatangi Sekretariat Informasi Korban Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan (SIKAP), --sebuah LSM yang memberikan pendampingan pada perempuan korban kekerasan, red-- dan LBH APIK Jakarta untuk meminta bantuan atas pelecehan yang kualami. Dari kedua lembaga ini aku disarankan untuk melapor ke polisi. Namun sebelumnya kedua lembaga ini juga menginformasikan bahwa pengungkapan kasus pelecehan seksual dengan sistem hukum yang berlaku saat ini sangat sulit dilakukan, mengingat pihak kepolisian umumnya selalu menginginkan saksi yang melihat langsung pelecehan yang kualami. Disamping itu mereka mengingatkan bahwa proses penyidikan akan berlangsung cukup lama. Dan yang pasti, sistem hukum yang ada belum memberikan perlindungan yang cukup kepada perempuan korban kekerasan terutama kekerasan seksual.

 

Akhirnya, dengan tekad bulat, dengan didampingi LBH APIK Jakarta, SIKAP, LBH Jakarta dan Kalyanamitra –untuk selanjutnya kusebut Lembaga Pendamping—, aku melaporkan atasanku ke Polda Metro Jaya. Aku dibawa ke bagian Ruang Pelayanan Khusus (RPK), yang khusus menerima laporan mengenai kekerasan terhadap perempuan.

 

Karena aku menginformasikan bahwa ada beberapa orang yang mengaku pernah juga mengalami pelecehan seksual dari atasanku,  Lembaga Pendampingku berusaha untuk mendekati mereka untuk menjadi saksi. Pada awalnya aku sangat berharap bahwa dari kesaksian mereka, dapat menjadi bukti yang kuat untuk menghukum pelaku. Sayangnya mereka tidak bersedia menjadi saksi dengan alasan akan mendapat masalah dari pasangan mereka — mengingat mereka tidak pernah menceritakan pelecehan yang mereka alami kepada pasangan mereka—. Tetapi setelah Lembaga pendamping melakukan pendekatan, akhirnya mereka bersedia menjadi saksi. Namun apa mau dikata, ketika memberikan kesaksian di kantor kepolisian, mereka malah menyangkal pernah menjadi korban pelecehan dari atasanku. Disini aku baru menyadari alangkah sulitnya mendapatkan orang yang mau menceritakan tentang kekerasan seksual yang mereka alami. Entah karena ketidakpercayaan pada hukum atau mereka takut dipermalukan karena akan terus menerus ditanyai pihak kepolisian. Hanya satu orang, —yakni atasanku yang baru—, yang akhirnya bersedia menyatakan bahwa dirinya pernah menjadi korban pelecehan oleh atasanku yang lama.

 

Tetapi keterangannya dianggap sebagai kasus tersendiri dan tidak dapat digabung dengan kasusku. Menurut pengacara dari lembaga pendampingku, polisi masih berpedoman pada pembuktian yang kaku, misalnya saksi harus orang yang melihat dan mendengar langsung peristiwanya (KUHAP pasal 1 poin 27). Dalam kasusku, tentu saja ini tidak dapat kupenuhi, karena peristiwanya terjadi di ruangan tertutup. Padahal menurutku seharusnya keterangan dari satu orang yang juga mengalami kejadian serupa dapat dijadikan bukti tentang bagaimana prilaku keseharian pelaku.

 

Karena kesulitan mendapatkan bukti dan saksi adanya pelecehan yang kualami, akhirnya Lembaga Pendampingku berusaha untuk meminta kepolisian memperkenankan pendapat ahli dalam hal ini Psikolog, sebagai alat bukti. Tetapi, pihak kepolisian kurang merespon permintaan ini. Akhirnya, laporanku di kepolisian terkatung-katung dan tidak sampai ke kejaksaan.

Selain menempuh jalur hukum, aku dan Lembaga Pendampingku berusaha untuk mencari bantuan lewat Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) dan Ikatan Sarjana Tehnik Indonesia cabang Jakarta.

 

REI menerima pengaduan kami dengan baik walaupun dinyatakan bahwa masalah ini belum diatur di dalam kode etik organisasi. Meski demikian, pihak REI berjanji akan bersedia menjadi mediator dalam persoalan antara aku dengan pihak perusahaan. Tetapi, rencana ini tidak terealisir karena pihak perusahaan menyatakan bahwa kasus ini sedang ditangani oleh kepolisian dan baru bersedia untuk bertemu setelah ada kepastian hukum dari pengadilan.

Lagi-lagi kami menemui jalan buntu. Karena terus mendapat tekanan baik dari perusahaan dan teman-teman kerjaku, aku akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari Perusahaan. Sampai saat ini aku masih menunggu, akankah sistem hukum dapat memberikan keadilan kepada perempuan korban kekerasan tanpa ada diskriminasi? (AD/SA)

 

[kop-bawah.htm]

 

Kembali Ke Halaman Utama

       


Holistic Solution Center | Hypnosis Association | EFT Indonesia | Psikoterapis | Bawah Sadar | Belajar Hipnotis | Layanan Hipnoterapi | Belajar Hipnoterapi | Buku Hipnotis Gratis | Hypnosis Training | Organisasi Hipnosis | Master Hipnotis | Solusi Salah Ketik | Fakir Magic | Sekolah Sulap | Psikologi Indonesia | Terapi Musik | Aktivasi Otak | Neurotherapy | Pengobatan Herbal | Artikel Kesehatan | Pakar Seks | Terapi Seks | Master Seks | Obat Ejakulasi Dini | Perusahaan Furniture | Master Indonesia | Toko Barang Antik | Terapi Tertawa | Kota Jepara | Pelatihan Internet Marketing