[logo-kop.htm]

 

 

 

 

 

 

 

Penelitian Respon Agama Islam

terhadap Pembakuan Peran Perempuan 

(Tim Peneliti: Farkha Cicik, Encop Sofia dan Ratna Batara Munti. Penyelaras Akhir: Budi Rajab) 

 

 

Latarbelakang dan Masalah Penelitian

 

Penelitian ini adalah salah satu dari lima penelitian yang berfokus pada masalah pembakuan peran (stereotype) perempuan dalam UUP No. 1/1974. Dalam UU ini, perempuan di tempatkan sebagai makhluk domestik (domestikasi perempuan) dengan posisi subordinat terhadap laki-laki (Pasal 31 dan 34). Penelitian ini bermaksud menelusuri bentuk-bentuk respon dari wacana agama Islam terhadap masalah pembakuan peran ini. Apakah melalui doktrin-doktrin keagamaannya, Islam di Indonesia juga ikut membakukan dan melestarikan peran dan kedudukan perempuan yang subordinatif tersebut?. Atau adakah terobosan-terobosan tertentu yang dilakukan oleh lembaga-lembaga keagamaan atau individu-individu tertentu untuk meredefinisi kedudukan dan peran perempuan tersebut?.

 

 

Sasaran penelitian

 

Penelitian dilakukan sejak tahun 1997-1998 yang mengambil sasaran penelitian sebagai berikut: (1) Komisi Fatwa MUI: MUI Jakarta, MUI Jogjakarta, MUI Jombang dan MUI Indramayu; (2) Pengadilan Agama: PA Jakarta-Selatan dan PA Indramayu; (3) Organisasi Perempuan Islam: Muslimat NU, Aisyiyah dan Majlis Taklim Al-Hidayah; (4) LSM Perempuan Islam: Fatayat NU , Yasanti dan Rifka An-Nisa’ di Jogjakarta; (5) Majalah Islam: Amanah dan Suara Aisyiyah; (6) Buku-buku karangan ulama Timur Tengah dan karangan Ulama Indonesia;(6) Pesantren Perempuan: Daarun Najah di Jakarta dan A-Fathimiyah di Jombang; (7) Beberapa Muballigh

 

 

Temuan Penelitian

 

A.     Pandangan terhadap status dan peran perempuan: pembakuan peran adalah kodrati

 

Menelusuri hasil penelitian ini nampak bahwa hak, kewajiban dan tugas laki-laki dengan perempuan berbeda atau dipisahkan secara tegas. Dan perbedaan tersebut dianggap sudah melekat (inherent) di dalam jenis kelamin itu sendiri, sudah terbawa sejak lahir dan tidak bisa diubah. Laki-laki, karena dia berjenis kelamin laki-laki, maka perannya adalah di ranah publik (domain public) sebagai pencari nafkah. Sebaliknya perempuan berperan di lingkungan rumah tangga (domain domestic), terutama mengurus rumah tangga, mengelola hasil kerja suami, serta mendidik anak-anak. Dengan kata lain, tugas perempuan adalah di sektor konsumsi dan reproduksi.

 

Di sektor domestik, dalam relasinya dengan laki-laki, kedudukan perempuan berada di bawah kedudukan laki-laki. Dalam rumah tangga laki-laki adalah pemimpin atau kepala keluarga. Penempatan laki-laki ini dimungkinkan karena dia berjenis kelamin laki-laki yang perannya dianggap lebih besar dan penting, ia harus bertanggung jawab dalam menfkahi keluarga.

 

 

B.     Perluasan Peran: Boleh bekerja asalkan….

Karena itu, ketika terjadi perluasan peran perempuan, dalam arti perempuan memasuki pekerjaan di ranah publik, muncul reaksi yang mempermasalahkan kerja perempuan itu. Pertama, adalah yang menolak sama sekali, karena hal itu dianggapnya bertentangan dengan kodrat dan berarti tidak sejalan dengan ajaran-ajaran agama Islam. Bagi yang menolak, seperti di wakili oleh buku-buku yang dikarang Ulama-ulama Timur-tengah yang banyak beredar di toko-toko buku Islam, itu merupakan suatu pelanggaran berat, bagaimanapun tugas perempuan adalah di dalam rumah tangga dan harus tunduk pada suami. Bagi mereka kesimpulannya, pekerjaan perempuan di sektor publik itu bukan sekedar akan mengundang fitnah, tetapi sudah melanggar ajaran agama.

 

Kedua, reaksi yang lebih moderat, yakni menerima kerja perempuan di ranah publik tetapi dengan mengajukan syarat tertentu. Kalaulah perempuan bekerja di sektor publik, jenis pekerjaannya harus sesuai dengan sifat-sifat perempuan yang feminin. Perempuan yang bekerja tidak boleh mengundang fitnah, dalam berprilaku harus halus dan lemah lembut serta dalam berpakaian harus sederhana dan tertutup, dan kalau bisa tidak bekerja di malam hari. Disamping itu, pekerjaan perempuan itu bukanlah prioritas atau sesuatu yang utama, tetapi sekedar pelengkap, yang membantu pendapatan suami. Dengan kata lain, pekerjaan perempuan itu hanyalah komplementer dari pekerjaan suami. Jangan sampai pekerjaan perempuan itu menjadi dominan dan mengatasi pekerjaan serta kedudukan suami.

 

Lebih lanjut, dari kelompok kedua ini, menyebutkan bahwa meskipun perempuan bekerja di luar rumah, tugas utama (kodratinya) tidak bisa ditinggalkan. Pekerjaan di sektor domestik, termasuk mengasuh dan mendidik anak-anak, tetap harus menjadi prioritas, harus mengatasi pekerjaan di sektor publik. Kenapa demikian? Karena demikianlah, menurut kelompok kedua ini, ajaran-ajaran Islam telah menetapkan ketentuan tersebut dan tidak bisa dirubah.

 

Intinya, pandangan kelompok kedua ini, telah mendukung konsep kemitrasejajaran (baca:peran ganda perempuan) Orde Baru yang menekankan partisipasi perempuan dalam pembangunan tetapi tetap tetap tidak bisa meninggalkan peran domestiknya. Pandangan ini yang paling banyak diwakili oleh sasaran penelitian.

 

Sementara pandangan yang ketiga, yang mensejajarkan kemampuan laki-laki dan perempuan seperti yang di ajukan LSM-LSM Islam, seperti Yasanti dan Rifka Annisa –yang mempermasalahkan ketidakadilan penempatan kedudukan dan peran kedua jenis kelamin--ditolak oleh sebagian besar sasaran penelitian. Dianggapnya melanggar ajaran agama dan berasal dari pemikiran Barat. Kelompok sasaran penelitian sebagian besar menempatkan laki-laki dalam kedudukannya sebagai pemimpin rumah tangga dan tugas utamanya adalah pencari nafkah. Kalupun perempuan berkarir dan jabatannya mengatasi laki-laki, itu bisa saja terjadi di sektor publik, tetapi di sektor domestik, dalam rumah tangga, perempuan harus kembali berada di bawah laki-laki. Laki-laki adalah pemimpin (qawwam) yang mengatasi perempuan dan doktrin-doktrin agama Islam telah memberikan keputusan yang tak bisa diganggu gugat mengenai hal ini.

 

 

Kesimpulan:

 

Respon institusi-institusi agama Islam yang memperkuat kebijakan Orde baru

 

Sebagian besar institusi agama yang perannya sangat penting dalam mensosialisasikan ajaran-ajaran agama Islam mencoba menghindari reinterpretasi atas teks-teks keagamaan itu. Kalaulah kemudian ada di antara institusi yang membuka peluang untuk kiprah perempuan di domain publik, perannya di domain domestik tetap dianggap sebagai kewajiban utama yang tidak bisa ditinggalkan. Dan pembenaran perluasan peran yang diberikan itu nampak sejalan atau saling memperkuat dengan kebijakan pemerintah Orde baru mengenai konsep kemitrasejajaran. Dengan cara demikian sebenarnya di samping ikut membakukan status perempuan, terutama di sektor domestik,, juga turut mendukung pada penambahan beban kerja perempuan, sementara beban dan kedudukan laki-laki tidak didorong untuk berubah. Dan juga walaupun perempuan itu diperbolehkan bekerja di sektor publik, kiprahnya itu dianggap bersifat komplementer.

 

Peluang perubahan

 

Mungkin institusi-institusi di tingkat lokallah yang nampak mulai berupaya memberikan tafsiran-tafsiran baru yang relevan dan kontekstual dengan kondisi masyarakat. Umpamanya MUI daerah Indramayu dan Jawa Barat dalam merespon masalah prostitusi, poligami dan pembagian kerja laki-laki dan perempuan secara lebih fleksibel. Demikian pula PA Indramayu dalam merespon kasus-kasus perceraian karena istri lebih memilih kerja menjadi TKW dan keluar dari peran domestiknya. Juga para muballigh daerah dan LSM-LSM. Hanya sayangnya, tingkat otonomi sebagian besar organiasi-organiasi itu masih terbatas, padahal ruang lingkup kerja mereka langsung berkaitan dengan persoalan-persoalan hidup sehari-hari masyarakat. Dengan demikian, institusi-institusi lokal ini cukup strategis untuk mengambil peran dalam wacana dan program-program pemberdayaan perempuan. 


Lihat Penelitian lainnya

Kembali Ke Halaman Utama

       


Holistic Solution Center | Hypnosis Association | EFT Indonesia | Psikoterapis | Bawah Sadar | Belajar Hipnotis | Layanan Hipnoterapi | Belajar Hipnoterapi | Buku Hipnotis Gratis | Hypnosis Training | Organisasi Hipnosis | Master Hipnotis | Solusi Salah Ketik | Fakir Magic | Sekolah Sulap | Psikologi Indonesia | Terapi Musik | Aktivasi Otak | Neurotherapy | Pengobatan Herbal | Artikel Kesehatan | Pakar Seks | Terapi Seks | Master Seks | Obat Ejakulasi Dini | Perusahaan Furniture | Master Indonesia | Toko Barang Antik | Terapi Tertawa | Kota Jepara | Pelatihan Internet Marketing