Kumpulan Berita Hukum Indonesia
Anggaran Rumah Tahanan KPK Sudah Disetujui

JAKARTA - Rencana pembangunan Rumah Tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi sudah disetujui Departemen Keuangan. "Saya dengar sudah disetujui," kata Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bidang Pencegahan, Jassin, saat berkunjung ke Tempo, Selasa lalu.

Selama ini, kata Jassin, Komisi banyak menitipkan tahanannya ke beberapa rumah tahanan. Antara lain Rumah Tahanan Salemba, Rutan Polda Metro Jaya, Rutan Mabes Polri, Rutan Polres Jakarta Selatan, dan Rutan Markas Komando Brimob Kelapa Dua. "Ini mengurangi efektivitas penyidikan," kata dia.

Jassin menambahkan, gedung Komisi, yang berada di Jalan Rasuna Said Kaveling C-1, Kuningan, Jakarta, itu memang sama sekali tak didesain untuk memiliki ruang tahanan. Gedung itu bekas bank. Kalau Komisi awalnya berencana membangun ruang tahanan di gedung yang sama, kata Jassin, "Biar tak harus membangun baru."

Mengingat makin banyaknya kasus korupsi yang ditangani Komisi, kata dia, sangat perlu bagi lembaga ini memiliki ruang tahanan sendiri. Rencananya, kata Jassin, ruang tahanan tak lagi di dalam gedung saat ini, tapi akan dibangun di belakang gedung Komisi. Mengenai standar bangunannya, diserahkan Kepada Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. "Berapa tingginya, berapa jumlah ventilasinya. Itu ada standarnya," kata Jassin.

Sebenarnya sudah cukup lama Komisi ingin memiliki ruang tahanan sendiri. Awalnya, tempat yang menjadi calon rumah tahanan itu berada di lantai bawah gedung Komisi, yang bisa diakses melalui pintu kiri dan kanan dan gedung. Sehari-hari pintu ini selalu tertutup rapat. Hanya pegawai yang dapat masuk ke lantai dasar melalui pintu kaca.

Di sana selalu ada petugas keamanan berjaga. Masuk ke lantai paling bawah, ada tempat parkir khusus pimpinan Komisi. Calon hotel prodeo itu terletak di sayap kanan. Tempo berkesempatan melihat-lihat calon rumah sementara bagi para tersangka kasus korupsi ini, beberapa waktu lalu.

Ada lima ruangan yang tampak disiapkan sebagai tahanan. Masing-masing berukuran 4 x 3 meter, tinggi atap 3 meter. Lantai dari keramik, dindingnya warna krem. Saat Tempo menengok ruangan itu, belum tampak ada tempat tidur. Karena waktu itu belum digunakan, untuk sementara ruangan tersebut jadi gudang untuk menyimpan buku dan poster-poster antikorupsi.

Rencana awalnya, empat ruang berjejer paling ujung akan digunakan untuk tahanan laki-laki, satu ruang di sebelah kanan untuk perempuan. Ruang tahanan wanita dilengkapi wastafel. Kamar mandinya persis ada di depan kamar.

Tak ada jeruji besi layaknya tahanan pada umumnya. Pintunya juga terbuat dari kayu. Berada di bagian paling bawah membuat area ini tak ditembus sinar matahari. Satu-satunya penerangan berasal dari lampu neon. Belum adanya dapur dan poliklinik dari ruangan itu merupakan salah satu alasan mengapa Departemen Hukum belum menyetujui tempat ini menjadi tahanan.

Dalam rencana Komisi, tahanan didesain tidak dapat bertemu langsung dengan pengunjung. Saat bertemu, keduanya dibatasi kaca bening. Komunikasi antara tahanan dan tamu akan dilakukan melalui interkom. DIANING SARI | SUTARTO | CHETA NILAWATY

Sumber: Koran Tempo - Kamis, 27 November 2008

Solusi Kesalahan Mengetik Artikel
6355