Kumpulan Berita Hukum Indonesia
Panitia Kerja Komisi III DPR Setuju Usia Pensiun 70 Tahun

Mantan Wakil Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Paskah Suzetta mengetahui adanya pemberian dana dari Bank Indonesia atau BI. Bahkan, Paskah juga menerima dana Rp 1 miliar yang merupakan bagian dari dana BI itu dan memerintahkan Hamka Yandhu untuk menyerahkan Rp 500 juta kepada Chandra Wijaya yang sudah pindah ke komisi lain.

Hal ini dikatakan mantan anggota Komisi IX DPR, Hamka Yandhu, dalam sidang di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (3/12). Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Masrurdin Chaniago itu memeriksa dua terdakwa kasus korupsi aliran dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia atau BI senilai Rp 100 miliar, Hamka Yandhu dan Anthony Zeidra Abidin. Sidang dilanjutkan 10 Desember untuk pembacaan tuntutan dari jaksa.

”Saat pertama kali dihubungi Anthony soal adanya penyerahan uang dari BI, saya melapor kepada Pak Paskah Suzetta. Pak Paskah mengatakan, datang saja,” papar Hamka.

Hamka juga menceritakan, ia pernah diperintahkan Paskah untuk menyerahkan uang Rp 500 juta untuk Chandra Wijaya dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Chandra adalah mantan anggota Panitia Khusus Amandemen Undang-Undang (UU) BI.

Kala itu, Paskah di sela-sela rapat terkait UU BI di Hotel Imperial membisikkan, meminta tolong Hamka untuk menitipkan uang. ”Saya suruh sekretaris saya, Jamilah, untuk mengantarkannya,” katanya. Respons Chandra mengatakan menerima uang itu.

Hakim Hendra Yospin menanyakan, bagaimana Paskah bisa mengetahui ada uang di tangan Hamka. Hamka mengakui, apa yang ia lakukan selalu dilaporkan kepada Paskah.

Hendra bertanya lagi, ”Apakah Paskah Suzetta koordinator dari penerimaan ini?”

Hamka menjawab, ”Saya tidak tahu Yang Mulia.” Hamka mengaku tidak tahu siapa yang punya inisiatif untuk mendapatkan dana dari BI itu.

Keterangan berbeda

Dalam persidangan, keterangan Hamka dan Anthony berbeda terkait dengan penerimaan uang. Hamka bersaksi bahwa penerimaan uang sebanyak empat kali, sedangkan Anthony mengaku hanya menerima tiga kali.

Hakim Slamet Subagyo menyatakan penerimaan uang pada 2 Juli 2003 yang diserahkan di rumah Anthony di Jalan Gandaria Tengah, Jakarta, sebesar Rp 5,5 miliar. Anthony mengatakan, ”Tidak benar, Yang Mulia.” Sebaliknya, Hamka menjawab, ”Seingat saya benar, Yang Mulia.”

Slamet mengonfirmasi penerimaan yang diserahkan pada 12 Agustus 2003 sebesar Rp 7,5 miliar. Hamka membenarkan penerimaan uang itu. Namun, Anthony menjawab, ”Tidak betul.”

Sedangkan penerimaan pada 18 September 2003 di Hotel Hilton, Jakarta, sebesar Rp 10,5 miliar, Hamka membenarkannya. Anthony mengatakan, ”Betul ada penerimaan itu, tetapi jumlahnya saya ragu.”

Hamka dan Anthony mengaku bersalah dan meminta maaf pada keluarga dan masyarakat. (vin)

Sumber: Kompas - Kamis, 4 Desember 200

Solusi Kesalahan Mengetik Artikel
6379