Kumpulan Berita Hukum Indonesia
Oentarto Merasa Terancam

Mantan Direktur Jenderal Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri Oentarto Sindung Mawardi merasa terancam. Ini karena dia menerima sejumlah teror, yang diduga terkait dengan dugaan kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran pada tahun 2002-2004 di sejumlah daerah, di mana dia menjadi salah satu tersangka.

”Saya khawatir. Setiap saat kalau dia punya suruhan lalu saya didor atau dimutilasi,” kata Oentarto seusia diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jumat (14/11).

Hal itu disampaikan Oentarto saat ditanya perasaannya setelah membeberkan sejumlah fakta kasus ini. Misalnya, keputusannya menerbitkan Radiogram Mendagri Nomor 22 Tahun 2002 pada Desember 2002, tentang pengadaan mobil pemadam kebakaran di sejumlah daerah, karena dia didesak Direktur PT Istana Sarana Raya, Hengky Samuel Daud, yang sekarang menjadi buron.

Menurut Oentarto, Hengky, yang dikenalnya sebagai Staf Khusus Menteri Dalam Negeri (saat itu) Hari Sabarno dan sering menggunakan mobil Land Cruiser berpelat nomor Markas Besar TN, saat meminta pembuatan radiogram bahkan sempat mengeluarkan senjata api dan kartu identitas sebagai anggota intelijen. ”Ada dua orang yang melihat peristiwa itu. Saya sudah serahkan identitas saksinya ke KPK,” kata Oentarto.

Akibat mengeluarkan radiogram itu, Oentarto menjadi tersangka kasus ini sejak Mei 2008. Namun, sampai sekarang KPK belum menahannya.

Kekhawatiran Oentarto ini muncul karena dia diteror. Bulan lalu di kawasan Cawang, Jakarta Timur, ada orang memecahkan kaca mobilnya dan kemudian mengambil tas berisi sejumlah dokumen yang disimpan di mobil itu. Ini merupakan peristiwa kedua setelah kejadian pertama pada Februari 2008.

Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan, KPK sudah menjalin kerja sama dengan kepolisian serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dalam upaya melindungi saksi atau pelapor korupsi. ”Jika membahayakan, kami melibatkan kepolisian,” ucapnya.

Ketua LPSK AH Semendawai menuturkan, teror yang dialami Oentarto sudah merupakan tindak pidana sehingga dapat dilaporkan ke polisi sehingga polisi dapat mencari pelaku teror itu. ”Jika diminta, LPSK juga dapat melakukan perlindungan,” ujar Semendawai. (NWO)

Sumber: Kompas - Sabtu, 15 November 2008

Solusi Kesalahan Mengetik Artikel
6296