Kumpulan Berita Hukum Indonesia
Kesaksian Anak Muda, Mengenang Almarhum Prof. Koesnadi Hardjasoemantri

Bangsa Indonesia kehilangan satu lagi putra terbaiknya.  Dia adalah Koesnadi Hardjasoemantri, seorang intelektual dan ahli hukum lingkungan.  Semasa hidupnya pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 9 Desember 1926, ini sarat dengan karya-karya, prestasi dan penghargaan.  Dalam usia 80-an tahun dan sebelum akhirnya beliau meninggalkan kita untuk selama-lamanya, penerima bintang mahaputra ini masih terus mengabdikan dirinya.  Dia masih aktif mengajar dan mengikuti berbagai kegiatan sosial, serta menjadi pembicara diberbagai seminar.

Siapapun yang berjumpa dengan Profesor Koesnadi, akan maninggalkan banyak kesan mendalam.  Selain karena kepintarannya, pribadi beliau adalah santun dan ramah kepada siapapun. Apalagi bila perjumpaan itu tidak sekedar bertatap muka atau bertemu di forum-forum ilmiah, melainkan perjumpaan yang intensif semisal duduk dan bekerja sama dalam suatu kegiatan, maka semakin tampaklah kualitas pribadi dan intelektual beliau.   Setidaknya begitulah yang kami rasakan di Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), sebuah lembaga, yang Pak Koes, begitu kami biasa memanggilnya, adalah salah satu pendirinya dan duduk sebagai Wakil Ketua Dewan Penyantun MTI. 

Kehadiran Pak Koes di MTI bukan sekedar simbol atau pelengkap nama-nama besar pendiri lembaga. Di banyak kegiatan MTI beliau turut terlibat aktif dan mengambil peran, bahkan diataranya menjadi koordinator kegiatan.  Beberapa kegiatan penting yang perlu kami sebutkan disini adalah, beliau pernah menjadi ketua tim kajian Hukum MTI tentang Keppres bermasalah tahun 1993-1998.  Menurut Pak Koes selaku ketua tim, Keppres-Keppres tersebut dinilai tidak konsisten dengan tata aturan perundangan yang ada. Proses pembuatannya pun diragukan obyektivitasnya karena banyak kerabat dekat Presiden yang diuntungkan dalam pelaksanaan Keppres itu.  Melalui tim Kajian hukum tersebut MTI merekomendasikan agar segera dilakukan tindakan perbaikan dengan mencabut, menata ulang atau meninjau kembali Keppres bermasalah tersebut. 

Keterlibatan Pak Koes di MTI bukan hanya dalam kajian keppres bermasalah.  Pak Koes juga turut membidani pembentukan Badan Independen Anti Korupsi (BIAK), yang belakangan turut mencetuskan lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  Selain itu, Pak Koes juga terlibat dengan pernik-pernik kegiatan di MTI lainya,  salah satunya adalah aktif memberikan sumbang saran dalam pelaksanaan Forum Rembug Nasional (FRN) yang di motori MTI.   FRN itu sendiri sangat fenomenal karena dalam acara tersebut menghadirkan banyak elemen penting bangsa mulai dari presiden, menteri kabinet, tokoh partai politik, pimpinan ormas-ormas besar, tokoh cendikiawan, pengusaha, kalangan media, LSM, dan aktivis mahasiswa.  Mereka dihadirkan untuk menyumbangan ide-ide terbaiknya dalam menyelesaikan permasalahan bangsa.

Bagi rekan-rekan muda di MTI, kehadiran Pak Koes memberikan kesan tersendiri yang cukup mendalam.  Di tengah kesibukan yang begitu padat, Pak Koes masih kerap hadir memenuhi undangan sekretariat untuk mengikuti sejumlah diskusi di MTI sekedar sebagai peserta.  Bahkan ketika rekan-rekan muda itu ingin minta waktu konsultasi untuk pembuatan buku, Pak Koes memilih mendatangi rekan-rekan muda itu ketimbang mereka yang mendatangi Beliau.  Dan Pak Koes rela berjam-jam untuk menemani diskusi sebelum kemudian beliau melanjutkan agenda lain yang cukup padat. 

Bagi kami yang muda-muda di MTI,  Pak Koes lebih dari sekedar  intelektual.  Ia juga seorang pendidik sejati yang siap bukan sekedar memberi tetapi juga membimbing dengan penuh kesabaran.  Beliau bukan hanya siap memberi saran-saran, tetapi pada saat yang sama beliau juga mendengarkan kami dengan penuh seksama.  Suatu sikap yang menurut kami sukar ditemukan pada diri orang sekaliber Pak koes. Berhadapan dengan tokoh besar seperti Pak Koes, membuat kami yang muda-muda ini menjadi manusia yang penuh arti, hal ini karena dihadapan beliau, kami juga didengar, kami dimengerti dan kami dihargai.

Akhirnya, dimata kami, Pak Koes hampir-hampir tidak pernah tua meski usianya memasuki senja.  Pada diri Pak Koes telah menyatu antara jiwa muda, gelora semangat dan  idealisme yang terus menyala.   Suatu kepribadian yang senantiasa hidup dan penuh energi, yang membuat kami yang muda-muda ini iri sekaligus kagum dan menaruh hormat setinggi-tingginya.  

Semoga kami bisa meneladanimu, Pak Koes.  Dan kami akan terus menjadi saksi atas segala amal kebaikanmu.  Semoga engkau tenang di sana dan bahagia bersama kekasih abadi. 

***

Ditulis oleh Sudirman Said, Ketua Badan Pelaksana Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI)

Note: Tulisan ini merupakan rangkuman dari pendapat beberapa pengurus MTI; Pak Marie Muhammad, Pak Boediono, Pak Kemal A. Stamboel, Pak Arief T. Surowidjojo, Pak Pradjoto dan rekan-rekan muda di MTI.


Solusi Kesalahan Mengetik Artikel
3342