Kolom - Situs Kumpulan Artikel | Arsip Berita | Kliping Media
Flu Unggas, SOS!

Judul tulisan ini dengan sadar dibuat menggigit karena flu unggas (flu burung) sudah benar-benar menjadi ancaman sangat serius. Ancaman ini tidak hanya terhadap kehidupan manusia, tetapi juga mencakup aspek yang luas berkaitan dengan masalah sosial ekonomi.
Kasus pertama flu unggas yang telah terdeteksi pada manusia ditemukan pada Juli 2005 di Kabupaten Tangerang. Jadi, bukan hal baru dan bukan suatu gejala yang serta merta menjadi ancaman.

Indonesia bukan sendirian. Banyak negara di Asia Tenggara, seperti Thailand dan Vietnam lebih dahulu terdeteksi infeksi flu unggas. Bahkan dalam 2-3 bulan lalu, kasus flu unggas di Vietnam dan Thailand lebih tinggi dari Indonesia, tetapi kemudian kasus di kedua negara itu dalam dua bulan terakhir ini menunjukkan penurunan.

Sebaliknya, di Indonesia dalam waktu 2-3 bulan lalu rata-rata setiap bulan ditemukan satu kasus, tetapi dalam satu bulan terakhir ini setiap tiga hari ditemukan satu kasus. Jadi, terjadi eskalasi kasus 10 kali lipat.

Respons masih jauh

Dengan fakta ini tidak berarti pemerintah tidak memberikan respons. Tetapi respons pemerintah masih jauh di bawah merebaknya kasus flu unggas. Manajemen pencegahan dan penanganan bahaya flu unggas tentu jauh lebih pelik di Indonesia dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam. Ini karena luas wilayah Indonesia, kepadatan penduduk, terutama di Jawa, sulitnya mengendalikan lalu lintas unggas dari satu daerah ke daerah lain, jumlah
rumah tangga yang memelihara atau memiliki unggas, dan aspek lainnya.

Tetapi hal ini tidak dapat dijadikan pembenaran sehingga opini publik umumnya menganggap respons pemerintah baru menujukkan greget-nya setelah keadaan benar-benar menjadi serius dan semakin sulit ditangani. Nenek moyang kita mengajarkan, "sedia payung sebelum hujan", rupanya petuah ini sudah dilupakan.

Kita tidak kekurangan orang pandai untuk menangani kasus ini. Untuk kesekian kalinya, masalah manajemen yang sistematis, terkoordinasi, dan berkesinambungan tampak kedodoran. Tempat sampah yang paling masuk akal biasanya adalah keterbatasan dana. Kita pandai bicara dalam tataran wacana tentang koordinasi, tetapi kenyataan di lapangan dan secara kasatmata didemonstrasikan ke masyarakat, betapa sulitnya koordinasi antara Departemen Pertanian dan Departemen Kesehatan yang merupakan garda terdepan menghadapi ancaman ini. Apalagi banyak pemda yang menganggap ancaman ini sebagai hal biasa. Bahkan ada pejabat daerah
yang enggan jika daerahnya dinyatakan terinfeksi flu unggas karena ketakutan
akan kehilangan investasi dan orang tidak mau datang ke daerahnya lagi.

Sekarang flu unggas telah menyebar ke 27 provinsi. Pada November 2004, baru mencapai 23 provinsi yang meliputi 153 kabupaten dan kota. Ancaman paling serius yang ditakuti sekarang, jika sampai penularan wabah penyakit ini tidak hanya dari unggas ke manusia tetapi dari manusia ke manusia. Jangan sampai penularan dari manusia ke manusia terjadi pertama di
Indonesia dan di manapun juga. Semua anak negeri bekejar dengan waktu agar bahaya maut ini tidak terjadi di Indonesia dan di manapun juga di dunia.

Dampak ekonomi

Dampak sosial ekonomi dari flu unggas juga luar biasa besarnya, yang selama ini kurang memperoleh perhatian. Jumlah populasi unggas dari berbagai jenis, yang meliputi ayam kampung, ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras pedaging, dan berbagai jenis itik atau bebek mencapai 1,3 miliar ekor. Jumlah populasi unggas sekitar 62% berada di Jawa, 18% di Sumatera, 7% di Kalimantan, 6% di Sulawesi, dan sisanya (7%) di Bali, Nusa Tenggara, dan
daerah lainnya. Ini angka resmi yang tercatat pada 2004. Jumlah ini belum termasuk berjuta-juta rumah tangga yang memelihara berbagai jenis unggas sebagai binatang peliharaan atau hobi yang dapat mencapai 30 juta rumah tangga. Total investasi di industri unggas modern dan semimodern diperkirakan US$3 miliar-US$3,5 miliar. Jumlah penjualan dari usaha
perunggasan setiap tahun mencapai sekitar US$5 miliar.

Dilihat dari ketersediaan dan keamanan pangan juga cukup signifikan. Dari industri peternakan unggas, Indonesia mampu menghasilkan daging sekitar 1,2 miliar ton per tahun dan memberikan konstribusi sekitar 56% dari total kebutuhan penyediaan daging hasil ternak. Tenaga kerja langsung yang dapat diserap perusahaan unggas modern dan semimo-dern mencapai 25.000 orang. Jumlah ini tidak termasuk tenaga kerja tidak langsung, seperti mereka yang terlibat dalam penjualan hasil unggas dari pedagang besar hingga kecil.

Jumlah produksi telur dari industri perunggasan yang tercatat hingga saat ini hampir 1,2 miliar ton yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan telur di dalam negeri. Jumlah ini tidak termasuk rumah tangga yang memelihara beberapa ayam untuk mendapatkan telurnya seperti yang saya kerjakan saat di Sekolah Dasar untuk menambah uang jajan.

Wabah penyakit flu unggas tentu mengakibatkan penurunan populasi unggas serta produksi daging dan telur na-sional, dan demikian pula dengan penjualannya. Akibat lanjutannya, besar di bidang penyerapan tenaga kerja di tengah pengangguran yang semakin membludak.

Dampak ekonomi lainnya adalah besarnya uang yang di-butuhkan pemerintah untuk menangani ancaman ini. Pemerintah memperkirakan untuk mencegah, kampanye ke-pada publik, penyediaan obat dan vaksin untuk unggas, dan berbagai kebutuhan lainnya, diperlukan dana sekitar US$300 juta untuk seluruh Indonesia pada 2006. Jika wabah ini semakin merebak, pemusnahan unggas peliharaan harus semakin ditingkatkan atas keputusan pemerintah. Pemerintah tentu harus memberikan kompensasi dan hingga saat ini besarnya hanya Rp10.000 per ekor untuk setiap jenis ayam atau itik.

Berdasarkan wawancara dengan peternak unggas tradi-sional di berbagai media televisi, mereka menganggap kompensasi itu terlalu kecil. Apalagi jika unggas mereka termasuk jenis mahal, seperti ayam hutan dan berbagai jenis burung mahal yang berpotensi sebagai media berjangkitnya flu unggas.

Masalah ini semakin serius karena kita tidak mungkin mengendalikan burung yang beterbangan dari satu tempat ke tempat lain, mereka tidak mengenal batas wilayah, bahkan batas negara. Jika saya lanjutkan tulisan tentang hal ini, saya khawatir pembaca akan semakin ngeri.

Kita jangan panik, tetapi benar-benar harus serius, dan mau atau tidak mau, kita bicara dan bekerja secara sistematis, berkesinambungan, dan terinci. Ada pepatah Inggris yang mengatakan "the devil is in detail, si setan itu berada dalam hal-hal yang mendetail."

Jadi, kita tidak bisa bicara hanya dalam garis besar, lalu selesai urusan, business as usual. Kita sudah terlambat dan harus mengejar ketinggal-an ini!


Oleh: Mar ie Muhammad
Bisnis Indonesia - Senin, 20 Februari 2006
Solusi Kesalahan Mengetik Artikel
21