Kolom - Situs Kumpulan Artikel | Arsip Berita | Kliping Media
Indonesia, Bangsa yang Bodoh?

Judul tulisan ini memang sengaja dibuat provokatif, tetapi bukan bermaksud mengerdilkan bangsa Indonesia, apalagi menghina, jauh dari itu. Judul tulisan ini dibuat menyengat dan dapat dikonotasikan ne-gatif justru untuk membangkitkan semangat bangsa ini dari ketelodoran, berbagai mitos yang meninabobokan, dan berbagai pujian yang akan me-lemahkan dan menempatkan kita dalam posisi serba puas.

Ada pula para ahli pikir kita yang berani menyimpulkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang kalah (loosing nation). Mereka membandingkan dengan berbagai ukuran sesaat dan jangka pendek dengan bangsa lain yang telah melejit ke depan, seperti China dan Vietnam.

Indonesia mungkin kalah dalam pertempuran tetapi saya sangat yakin bangsa ini akan memenangkan peperangan. Dahulu kemajuan suatu bangsa diukur secara sempit dengan kriteria ekonomi, seperti tingkat pertumbuhan dan pendapatan per kapita.

Ukuran seperti ini sudah usang dan telah terjadi pergeseran paradigma yang fundamental. Jika yang diambil sebagai ukuran sekadar pendapatan per kapita, maka negara seperti Brunei Darussalam dan banyak negara di Timur Tengah yang kaya minyak dan berpenduduk sedikit, pasti dapat dikategorikan sebagai negara maju. Tetapi sebenarnya tidak demikian.

Di negara-negara itu tingkat buta huruf penduduknya masih tinggi, kendati mereka sekarang berusaha-dengan kekayaan alam yang melimpah ruah-mengejar ketinggalan dan memberikan prioritas tinggi pada pendidikan, termasuk bagi kaum wanitanya.

Hal yang menarik di sini, justru negara yang bebas membuka diri terhadap dunia luar, seperti Uni Emirat Arab, tampaknya akan meninggalkan tetangganya dalam perkembangan ekonomi dan sumber daya manusia. Perkembangan ekonomi negara itu diusahakan tidak tergantung lagi kepada sumber daya alam.

Sekarang ukuran yang dipakai untuk mengukur kemajuan suatu bangsa adalah sumber daya manusia. Jepang dan Jerman, misalnya, yang babak belur setelah Perang Dunia II, dalam waktu 10 tahun bangkit kembali. Ini karena mereka memiliki sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, bersatu padu, dan bekerja keras untuk membangun kembali masyarakat dan bangsa mereka.

Demikian pula Vietnam. Prasarana ekonomi negara ini hancur berantakan akibat pemboman yang dilakukan pesawat Amerika Serikat selama perang. Dengan semangat yang sama seperti Jepang, Vietnam telah bangkit kembali dan dalam beberapa hal sudah mengalahkan Indonesia.

Kategori kemajuan

Sekarang suatu bangsa dan masyarakat dibagi dalam empat kategori. Yaitu, bangsa yang sangat pandai dan cerdik, bangsa yang sedang, bangsa kurang pandai dan cerdik, dan bangsa yang bodoh.

Singapura, negeri kepulauan yang tidak memiliki apa-apa kecuali pelayanan yang first class dalam semua hal, dimasukkan ke dalam kategori pertama. Kita tentu dapat berargumentasi, mengurus Singapura yang berpenduduk sama dengan Jakarta Barat, jauh lebih mudah.

Argumentasi seperti ini dapat meninabobokan kita. Jangan lupa, Singapura punya apa, kecuali letaknya yang strategis, dan sekali lagi negara pemberi pelayanan jasa yang nomor wahid.

Kita suka menggunakan ukuran dengan negara yang lebih mundur dari Indonesia, seperti banyak negara di Afrika. Pandangan seperti ini merayap pula di kalangan elit, sehingga kita kemudian berpuas diri.

Kita harus membiasakan diri membandingkan dengan negara yang lebih maju. Tidak usah jauh-jauh, dengan negara sekawasan, seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Kesalahan lain yang sudah mendarah-daging adalah kita mudah terperangkap pada mitos-mitos, seperti mitos sejarah bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar, karena itu namanya saja sudah Indonesia Raya. Kita lalu bicara tentang kejayaan Majapahit, Mataram, dan entah apa lagi.

Kita juga suka berbicara tentang kekayaan alam yang melimpah ruah dan itu tidak salah. Tetapi kenyataan telah menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa dan masyarakat bukan karena kekayaan alam. Lihat Jepang yang tidak punya apa-apa.

Kekayaan alam akan sangat berarti jika kita olah secara benar. Jadi, kunci kemajuan suatu bangsa adalah kepemimpinan dan manajemen. Inovasi, kepandaian, dan kelihaian menyerap teknologi dari bangsa lain yang lebih maju seraya mengembangkan teknologi yang ada dalam diri mereka sendiri dan ini biasa yang disebut teknologi tepat guna.

Bagaimana bangsa ini?

Hingga kini kita pasti tidak berani mengatakan bahwa Indonesia termasuk kategori pertama sebagai bangsa yang sangat cerdik dan pandai. Tetapi jika dikatakan bahwa bangsa ini termasuk bangsa yang bodoh, itu juga keterlaluan.

Mungkin bangsa ini berada pada tahapan bangsa dan masyarakat yang kurang pandai dan kurang cerdik. Kepandaian dan kecerdikan, selain berkaitan dengan masalah manajemen, juga kelihaian dalam menggunakan kesempatan dalam persaingan global.

Bangsa ini terlalu terperangkap pada berbagai masalah kecil yang tidak jarang kita buat sendiri. Hal ini mungkin didorong oleh kepentingan politik sesaat agar tampak populis. Sebagai contoh masalah beras, masak anggota DPR tidak tahu perbedaan antara beras dan gabah atau padi.

Petani tidak menjual beras tetapi padi atau gabah kering yang sekarang dipatok dengan harga Rp1.700 per kg melalui Bulog. Jika harga beras di pasaran naik, tidak otomatis petani akan untung. Petani di Jawa, yang merupakan mayoritas petani di seluruh Indonesia, bahkan akan merugi.

Mengapa demikian? Karena lahan yang mereka miliki hanya rata-rata seperempat hektare, dengan produksi padi yang tidak cukup untuk menghidupi keluarganya.

Karena itu, tidak usah aneh jika para petani di Jawa mencari tambahan penghasilan, termasuk membabat hutan lindung, menanam kopi, kentang, dan sebagainya. Inilah kibat fenomena kemiskinan.

Jadi, petani di Jawa adalah net consumers. Jika harga beras naik, mereka akan semakin menderita kerugian. Jika harga beras naik, yang untung adalah pedagang, bukan petani, khususnya di Jawa.

Di luar Jawa, petani memiliki lahan lebih luas, paling tidak empat kali lahan petani di Jawa. Tetapi tingkat produktivitas mereka rendah, karena irigasi yang kurang memadai dan masih banyak tanah dengan sistem sawah tadah hujan.

Akibatnya, produksi padi petani di luar Jawa pun pas-pasan saja, hanya untuk kehidupan sehari-hari. Sebagian hasil padi tersebut dijual sebagai gabah, sedangkan sebagian lagi ditumbuk sendiri untuk makanan mereka sehari-hari.

Jalan terbaik untuk meningkatkan pendapatan petani adalah menaikkan harga beli gabah oleh Bulog. Selain itu, saat panen raya, agar petani tidak menjadi permainan tengkulak yang menekan harga, Bulog harus habis-habisan membeli gabah.

Jika hak angket DPR diteruskan, seharusnya terutama ditujukan bagaimana proses tender beras dilakukan. Apakah tender tersebut sudah berlangsung secara fair dan tidak ada hengky-pengky? Jadi, bukan kebijakan untuk mengimpor beras.

Contoh lain tentang negosiasi Blok Cepu antara ExxonMobil dan Pertamina yang tak kunjung berakhir. Hal ini tentu mudah dimengerti karena Pertamina adalah pihak yang berkepentingan, sehingga ada conflict of interest.

Mengapa tidak dalam semangat otonomi, negosiasi itu diserahkan saja kepada Pemda Jawa Timur? Mereka kan juga memiliki ahli-ahli di Dinas Pertambangan, yang tentu bisa dibantu oleh pemerintah Pusat.

Masalah undang-undang dan peraturan, setiap saat bisa diubah, disesuaikan dengan keadaan agar negara ini kompetitif dengan bangsa lain yang telah jauh meninggalkan kita. Contoh lain lagi adalah mengenai ramai-ramai manipulasi fasilitas restitusi pajak untuk para eksportir.

Di mana letak persoalannya? Tidak ada sistem yang sempurna 100%. Suatu sistem yang sempurna pun jika digerogoti oleh mereka yang seharusnya menegakkan sistem itu, pasti ia akan hancur alias tidak berfungsi. Sebaliknya, suatu sistem yang tidak sempurna tetapi dikawal dan ditegakkan oleh orang-orang yang memegang teguh aturan permainan, maka ia tentu akan
berjalan mencapai tujuannya.

Yang terjadi dalam manipulasi ekspor fiktif adalah orang-orang yang seharusnya mengawal dan menegakkan sistem, yaitu tenaga di pajak dan bea cukai, justru berkolusi dengan eksportir hitam, ikut menggerogoti, dan menghancurkan sistem itu demi kepentingan kantong meraka. Jadi, intinya adalah pembenahan aparat dan tentu terbuka kemungkinan untuk memperbaiki
sistem.

Jangan sampai karena beberapa gelintir eksportir hitam yang konon sudah melarikan diri keluar negeri, lalu eksportir yang baik dan mengikuti aturan terkena getahnya. Hati-hati lho, ekspor sangat penting untuk meningkatkan daya saing produk kita apalagi di tengah pengangguran yang semakin membludak.


Oleh: Mar ie Muhammad
Bisnis Indonesia - Senin, 23 Januari 2006
Solusi Kesalahan Mengetik Artikel
15