Kolom - Situs Kumpulan Artikel | Arsip Berita | Kliping Media
PR Mendesak Bidang Ekonomi

Setelah melalui proses berliku-liku, akhirnya datang pula apa yang ditunggu-tunggu masyarakat dan dunia usaha, yaitu terbentuknya tim ekonomi baru Kabinet Indonesia Bersatu, yang tidak sepenuhnya baru. Yang selalu menjadi sorotan dalam tim ekonomi adalah Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan. Menko Perekonomian bagaikan dirigen dalam satu pergelaran musik orkestra. Menteri Keuangan memegang posisi kunci. Ini karena berbagai departemen, seperti Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan, berkaitan sangat erat dengan tugas Depkeu yang berhubungan dengan masalah perpajakan, kepabeanan, dan cukai.

Departemen Keuangan dalam tubuh manusia bagaikan darah. Ini karena tugas Depkeu berhubungan dengan seluruh jajaran pemerintahan, bahkan mempunyai dampak besar bagi publik.

Figur Boediono sudah lama berkelana dari satu jabatan ke jabatan lain. Dia adalah anak didik Widjojo Nitisastro dan kemunculannya pertama di Kantor Menneg PPN/Bappenas sebagai salah seorang deputi.

Boediono kemudian pindah ke Bank Indonesia sebagai salah seorang direktur. Dari bank sentral, dia kembali ke Kantor Menneg PPN/Bappenas sebagai orang pertama (menteri) di era Presiden B.J. Habibie.

Presiden Megawati Soekarnoputri cukup jeli, mengambilnya sebagai Menteri Keuangan. Boediono dianggap berhasil dalam menciptakan stabilisasi ekonomi dan mengelola keuangan negara.

Dia memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berkaitan dengan masalah pembangunan nasional dan kemiskinan. Alhasil saat ini Boediono memang figure yang paling cocok menjabat Menko Perekonomian.

Mantan Menneg PPN/Kepala Bappenas itu adalah figur pendiam, sangat hati-hati dalam mengeluarkan pernyataan, dan banyak senyum. Namun dia sulit diterka dan tidak terlalu suka mengambil tindakan berisiko tinggi.

Sedangkan Menkeu Sri Mulyani Indrawati adalah ahli analisis, seorang berdarah Jawa yang sudah kehilangan ke-Jawa-annya, pandai bicara dan blak-blakan, pekerja keras, bahkan sampai mengetik sendiri. Dunia keuangan adalah hal baru baginya meski tidak sepenuhnya baru.

Sri Mulyani memimpin departemen raksasa yang sangat mapan dengan jumlah karyawan sekitar 62.000 orang, jauh lebih besar pekerjaan dan tanggung jawabnya, mungkin 10 kali lipat dibandingkan dengan Kantor Menneg PPN/ Bappenas dengan karyawan yang urang dari 1.000 orang.

Depkeu bagaikan pasar swalayan yang menjual berbagai produk. Bidang garapan departemen ini sangat luas, sangat teknis, dan pengaruh keputusan yang diambil terasa di seluruh lini pemerintahan, bahkan sampai ke masyarakat.

Lebih kompak

Saya percaya Boediono dan Sri Mulyani dapat bekerja lebih kompak dibandingkan dengan Aburizal Bakrie dan Jusuf Anwar. Aburizal biasa memimpin perusahaan, dan dia mengira Menko Perekonomian bagaikan direktur utama, sedangkan para menteri di bidang ekonomi seperti direktur.

Padahal, tidak demikian. Sekarang harapan dunia usaha dan masyarakat tertuju pada dua primadona ini. Duet Boediono-Sri Mulyani menjadi spot light, mereka akan dikejar wartawan, dan pasti diminta ceramah di mana-mana. Pertanyaannya, apa yang segera dikerjakan tim ekonomi yang sangat ditentukan oleh dua figur ini?

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang belakangan ini tampak semakin sensitif, dalam sidang kabinet minggu lalu, menggariskan enam hal yang harus dikerjakan tim ekonomi sebagai agenda pemerintah. Keenam hal itu meliputi stabilitas ekonomi termasuk pengendalian inflasi, rekonsiliasi kebijakan fiskal dan moneter, perbaikan dalam arus barang, pembukaan lapangan kerja baru, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan mening-katkan surplus neraca transaksi berjalan dan neraca modal.

Semua agenda itu merupakan pekerjaan rumah raksasa dan satu dengan lainnya  berkaitan erat. Pertanyaannya, dari mana kita mulai agar keenam agenda itu secara bertahap dapat diwujudkan.

Keenam agenda itu merupakan suatu keharusan. Kita harus jeli dan dapat membedakan antara yang harus dan yang dapat dikerjakan dalam lingkungan ekonomi dan bisnis lokal dan global.

Stabilisasi ekonomi

Jika saya ditanya, saya akan mulai dengan program stabilisasi ekonomi seraya meletakkan dasar yang sehat dalam makro dan mikro ekonomi untuk pertumbuhan yang cukup tinggi dan berkelanjutan. Stabilisasi ekonomi harus dimulai dengan mengendalikan inflasi. Ini bukan pekerjaan mudah, tidak populer, dan pahit.

Seusai sidang kabinet itu, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah bersama Menko Perekonomian dan Menkeu tampil di depan wartawan. Mereka memperoleh liputan media massa yang mencolok.

Penampilan mereka tentu untuk mendemonstrasikan kepada publik bahwa antara Thamrin (BI) dan Lapangan Banteng (Depkeu dan Kan-tor Menko Perekonomian) akan bekerja seerat-eratnya untuk melaksanakan program stabilisasi, terutama dalam mengendalikan inflasi.

Boediono dan Burhanuddin optimistis angka inflasi dapat diturunkan. Inflasi sekarang mencapai 18%, dapat diturunkan menjadi satu digit pada paruh kedua 2006.

Syukur kalau hal itu bisa terlaksana. Pasar umumnya tidak seoptimistis seperti itu, meski angka inflasi pasti dapat diturunkan mulai 2006 karena angka tersebut telah mencapai puncaknya.

Angka inflasi dapat diturunkan hingga mencapai satu digit untuk 2006 yang telah diprediksi pasar. Jika otoritas moneter dan fiskal, lewat pengetatan likuiditas, berhasil menurunkan angka inflasi hingga satu digit pada paruh kedua 2006, tidak berarti tingkat bunga otomatis segera turun drastis pada paruh kedua 2006.

Saat ini tingkat suku bunga pinjaman (lending rate) rata-rata nasional mencapai 18%. Jika inflasi dapat diturunkan pada paruh kedua 2006 hingga satu digit, katakanlah 9%, penurunan tingkat suku bunga pinjaman diperkirakan baru akan turun menjelang akhir 2006. Tingkat suku bunga pin-jaman bisa turun sampai dengan dua digit sehingga rata-rata nasional mencapai 16%.

Ada perkembangan global lain yang secara langsung berdampak pada perekonomian nasional, yaitu lagi-lagi harga minyak mentah dunia. Selama dua minggu terakhir ini harga minyak mentah dunia agak meningkat kembali, kendati masih di bawah US$ 60 per barel. Ini karena Eropa dan Amerika Utara terlalu cepat di-ngin dan membeku akibat perubahan iklim yang susah diprediksi.

Musim salju datang terlalu cepat sehingga mendorong peningkatan konsumsi minyak mentah secara global sehingga harganya naik. Harga minyak mentah dunia diperkirakan mulai turun pada Maret 2006. Sebelumnya bisa terjadi harga minyak berada di atas US$60 per barel.

Hal ini lagi-lagi akan semakin men-cekik APBN yang sudah dalam keadaan sulit. Dari sekarang kita harus siap-siap jika harga minyak mentah dunia mencapai di atas US$60 per barel. Kondisi ini dipicu pula oleh keadaan di Timur Tengah yang tetap eksklusif dan permintaan minyak oleh China yang tetap tinggi.

Jangan ngawur

Sementara itu, penerimaan pajak dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang mungkin berada di bawah 6% pada 2006 terlalu dipaksakan jika hendak digenjot habis-habisan. Jangan sampai kita bagaikan pepatah "nafsu besar tenaga kurang, bagaikan bubuk makan kayu."

Sekarang saja tersiar berita bahwa PPnBM atas produk otomotif yang semula dinaikkan, tetapi belum efektif, akan diturunkan.

Kita memang perlu meningkatkan penerimaan negara, tetapi jangan ngawur dan hantam kromo, misalnya, pengenaan cukai dengan alasan keadilan dan persamaan terhadap minuman ringan dan semen. Contoh lain, semua orang harus punya NPWP, kecuali mereka yang telah memiliki dan yang sudah meninggal dunia.

Bagaimana dengan orang-orang yang penghasilannya sama dengan, bahkan di bawah, penghasilan tidak kena pajak? Apakah mereka juga harus memiliki NPWP?

Ada fakta lain yang pasti berdampak terhadap perkembangan ekonomi saat ini dan di masa mendatang. Penyakit lingkungan menular-seperti HIV/ AIDS, flu burung, polio, TBC, malaria, demam berdarah, dan campak-semakin mengganas. Selain menurunkan produktivitas kerja, penyakit seperti ini juga menimbulkan beban biaya yang tidak sedikit bagi rumah tangga dan pasti menimbulkan beban bagi pemerintah.

Kita jangan berharap terus-menerus menggantungkan diri pada belas kasihan luar negeri untuk mencegah dan menanggulangi penyakit lingkungan yang menggerogoti sumber ekonomi dan keuangan nasional.

Di era Presiden Megawati kita masih agak beruntung karena aset yang dikelola BPPN masih lumayan harganya dan laku dijual. Sekarang aset-aset tersebut tinggal sisanya dan tidak dapat diandalkan lagi sebagai sumber penerimaan negara.

Saya setuju dengan Presiden Yudhoyono, kita jangan pesimistis, sikap hati-hati tetap diperlukan, bagai kata pepatah "sedia payung sebelum hujan" apalagi sekarang mulai musim hujan.


Oleh: Mar'ie Muhammad
Bisnis Indonesia - Senin, 12 Desember 2005
Solusi Kesalahan Mengetik Artikel
7