Kolom - Situs Kumpulan Artikel | Arsip Berita | Kliping Media
Tahun 2007: Konsolidasi dan Ekspansi

Berdasarkan keterangan resmi dari otoritas fiskal dan moneter, kinerja di bidang fiskal dan moneter dalam tahun 2006 menunjukkan perkembangan yang positif. Meskipun demikian, beberapa catatan-catatan penting perlu diberikan, agar tahun 2007 dapat  digunakan sebagai momentum untuk konsolidasi dan ekspansi ekonomi serta dunia usaha. Konsolidasi diperlukan, setelah sepuluh tahun kita bekerja dengan susah payah dengan biaya yang sangat tinggi, akibat krisis yang dimulai tahun 1997, secara umum dapat dikatakan ekonomi Indonesia telah pulih. Waktu yang kita perlukan lebih lama dan juga biayanya jauh lebih tinggi untuk pemulihan ekonomi dibandingkan dengan negara-negara lain sekawasan yang juga mengalami krisis, karena krisis yang kita alami jauh lebih dalam. Krisis yang kita alami tidak hanya dalam bidang keuangan dan ekonomi, bahkan kita mengalami krisis pula dalam bidang politik. Lalu diikuti dengan reformasi yang mendasar sebagai lompatan jauh dalam suasana serta lingkungan yang terbatas dan disana-sini masih dalam tahap mencari-cari sistem atau trial and error.

Kinerja bidang fiskal
Kinerja dalam bidang fiskal dan pasar modal berdasarkan fakta menunjukkan hasil-hasil yang positif. Defisit anggaran belanja lebih rendah dari perkiraan semula, meskipun penerimaan pajak dan beberapa sumber penerimaan lainnya berada sedikit di bawah target. Secara potensial, terdapat ruang yang cukup untuk meningkatkan penerimaan pajak yang merupakan tulang punggung penerimaan negara. Tetapi dalam waktu 2-3 tahun terakhir, terlihat tanda-tanda penerimaan pajak mengalami kejenuhan. Penerimaan pajak berbanding lurus dengan kegiatan ekonomi yang diukur dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Ekstensifikasi pembayar pajak dari perusahaan dan terlebih lagi dari perorangan, mutlak harus diprioritaskan, meskipun memerlukan waktu dan konsistensi dan hal ini merupakan salah satu agenda nasional yang utama. Peningkatan penerimaan negara semakin mendesak karena tahun 2007 dan ke depan, pengeluaran akan semakin meningkat untuk mengurangi kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, rehabilitasi infrastruktur ekonomi dan kehidupan masyarakat akibat berbagai bencana yang semakin mendera negeri ini.

Defisit anggaran belanja dapat ditekan hingga 1% dari PDB, lebih rendah dari target APBN 1,3%. Meskipun realisasi penerimaan negara sedikit di bawah rencana, tetapi dari sisi pengeluaran, misalnya anggaran belanja modal belum maksimal. Tahun 2006 mencatat, pengeluaran untuk belanja modal menunjukkan angka di atas 80%. Angka ini menunjukkan kapasitas arbsorbsi jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang bahkan pernah hanya mencapai 60%.

Kinerja pasar modal menunjukkan prestasi yang luar biasa, sehingga Bursa Efek Jakarta (BEJ) tercatat sebagai salah satu bursa terbaik di Asia. Peningkatan indeks (IHSG) secara meteoritis, sehingga pada akhir tahun mencapai lebih dari 50% dibandingkan dengan pada awal tahun. Demikian juga nilai transaksi dan kapitalisasi menunjukkan peningkatan yang signifikan. Peningkatan yang tajam ini banyak didorong oleh pembeli dari luar negeri. Sekarang persoalannya, bagaimana kinerja pasar modal yang baik ini bisa memberikan dampak yang positif bagi sektor riil yang masih lamban pertumbuhannya. Perlu adanya insentif untuk para emiten baru dan pengeluaran saham-saham baru (new issuen) dari perusahaan yang sudah go public, jika dana yang diperoleh dari pasar modal berupa ekuitas digunakan untuk sumber pembiayaan usaha baru atau ekspansi dari perusahaan yang sudah ada.

Sektor moneter
Angka inflasi yang pada awal tahun 2006 sebesar dua digit, telah dapat diturunkan secara dramatis sehingga angka inflasi pada tahun 2006 diperkirakan hanya mencapai 6,6%. Dengan prestasi ini maka sekurang-kurangnya kita telah dapat menghindarkan diri dari ketakutan adanya stagflasi, stagnasi pertumbuhan yang diikuti dengan inflasi yang tinggi. Kita menyadari bahwa bahwa dari sudut fiskal, tidak banyak dapat diharapkan sebagai instrumen untuk memicu pertumbuhan. Andalan kita untuk pengembangan usaha di dalam negeri, pendanaannya berasal dari kredit perbankan serta pasar modal. Tetapi sayangnya, ekspansi kredit perbankan memprihatinkan. Selama tahun 2006 hingga bulan Oktober, angka resmi yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, pertumbuhan kredit perbankan hanya 66 triliun rupiah atau dalam persentase dari Januari hingga Oktober, pertumbuhan kredit hanya 9%. Bahkan pertumbuhan kredit tahun 2005 dari kuartal satu sampai dengan kuartal tiga, pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2006 untuk periode yang  sama. BI merencanakan pertumbuhan kredit perbankan pada tahun 2006 semula   18%-20%, lalu diturunkan menjadi 13%. Tetapi jika hingga bulan Oktober hanya mencapai 9%, mustahil angka 13% dapat diraih. Lalu dimana persoalannya? BI telah menurunkan berkali-kali BI rate, sehingga pada akhir tahun 2006 menjadi 9,75%. Minggu yang lalu BI Rate telah diturunkan lagi dengan 25 basis poin. Tidak dapat disangkal bahwa ruang untuk menurunkan BI rate semakin terbatas. Di pihak lain, suku bunga kredit bank komersial memang masih tinggi yang pada saat ini untuk investasi dan modal kerja, berada pada kisaran 15%-16% per tahun, bahkan untuk kredit konsumsi berada pada kisaran 18%. Tetapi masalah yang lebih pokok disini adalah ekspansi kredit perbankan banyak ditentukan oleh ekspansi kredit bank-bank pemerintah. Sayangnya, terjadi banyak ketakutan dari pihak bank pemerintah karena meskipun penyaluran kredit telah dijalankan sesuai aturan, tetap terdapat potensi kredit macet yang disalurkan, lalu dikategorikan sebagai kerugian negara. Selama ketakutan ini ada, maka bank-bank pemerintah tetap akan sangat ekstra hati-hati dalam penyaluran kredit.

Menggerakkan ekonomi masyarakat
Untuk menggerakkan perekonomian masyarakat, kita tidak dapat hanya bertumpu pada cara-cara konvensional dan terperangkap pada indikator fundamental ekonomi semata. Meskipun demikian, kita tetap harus selalu menjaga kesehatan fundamental ekonomi seraya dikonsolidasikan untuk ekspansi ekonomi. Kita jangan terlalu berharap investasi dari luar akan berduyun-duyun datang ke Indonesia, jika investasi dari dalam negeri saja masih berada dalam keadaan stagnan. Perlu keberanian untuk terobosan-terobosan yang bisa menggerakkan perekonomian, misalnya, di banyak daerah di Indonesia kita bisa menanam singkong. Apakah tepung singkong dicampur dengan tepung terigu tidak dapat digunakan untuk mie instan? Konsumsi mie instan sangat besar. Jika kita berhasil mencampur tepung terigu dengan tepung singkong untuk membuat mie instan, maka ekonomi masyarakat dibanyak daerah akan lebih bergerak. Dengan cara demikian, jika secara komersial hal itu visible, maka impor gandum untuk membuat tepung terigu juga dapat dikurangi. Ini sebagai salah satu contoh untuk memaksimalkan hasil-hasil produksi dalam negeri. Untuk itu perlu pendanaan kredit perbankan. Untuk usaha-usaha yang sehat, prosedur penyaluran kredit perlu disederhanakan.

Angka-angka memang perlu untuk mendukung keberhasilan atau kekurangan, tetapi ia tetap harus dikaitkan dengan realitas di lapangan dan dinamika sosial.


oleh: Mar ie Muhamamd
Bisnis Indonesia - Senin, 08 Januari 2007
Solusi Kesalahan Mengetik Artikel
40