Kolom - Situs Kumpulan Artikel | Arsip Berita | Kliping Media
Nasionalisme Ekonomi

Proses globalisasi perdagangan, keuangan dan sektor bisnis lainnya terus bergulir. Proses ini menimbulkan dampak batas-batas antar negara secara politik menjadi semakin lentur karena seakan-akan dunia menjadi satu kesatuan tanpa batas. Proses globalisasi secara intensif telah menjadi kenyataan dalam dunia teknologi komunikasi. Di pihak lain masyarakat dunia juga menyaksikan pula berbagai paradoks yang berlawanan arah dengan kecenderungan globalisasi. Salah satu bentuk paradoks yang terjadi adalah sentimen asing dalam masyarakat domestik atau dapat disebut sebagai gejala xenophobia.

Ironisnya, kecenderungan kuat anti asing secara intensif berjalan akhir-akhir ini di negara-negara Eropa yang secara ekonomi dan teknologi dikategorikan sebagai negara maju. Kelompok anti asing ini biasa dimasukkan dalam aliran ultra kanan. Ultra kanan meskipun tidak terlalu besar pengikutnya, tetapi sangat radikal dalam aksi-aksinya dan terjadi di negara-negara seperti Italia, Perancis, Jerman dan Belanda. Salah satu faktor yang menyulut kecenderungan ultra kanan adalah tingkat pengangguran yang tinggi dan justeru terjadi dikalangan anak-anak muda yang sedang mencari pekerjaan. Karena itu tenaga kerja asing, seperti dari Turki, Afrika Utara dan juga dari Asia Selatan mereka musuhi.

Di Indonesia, paham ultra kanan seperti ini belum dikenal, tetapi sekarang bermunculan pikiran dan tindakan yang kurang bersahabat dengan sesuatu yang berbau asing, termasuk dalam bidang investasi. Sentimen ini terjadi pula pada segelintir elit politik nasional dengan slogan, "kita harus menjadi tuan di negeri sendiri," dan segala kekayaan alam mereka anggap dapat kita kelola sendiri. Sebenarnya paham seperti ini tidak seluruhnya salah, asal kita dapat mengelolanya, bagaimana nasionalisme dalam bidang ekonomi ini dikelola sehingga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat. Tetapi manifestasinya tidak boleh dan jangan sekali-kali anti asing, apalagi kita sekarang sedang berusaha keras menarik investor asing.

Apakah dapat dikatakan bahwa tingkat nasionalisme Indonesia lebih tinggi dari Cina dan India? Saya percaya tidak demikian. India memang dikenal sebagai negara yang dalam waktu dua puluh tahun yang lalu masih menutup diri, tetapi dalam waktu sepuluh tahun terakhir India semakin membuka diri terhadap dunia luar. Hasilnya, dengan membuka diri, diperoleh berbagai kemajuan yang menaikkan taraf hidup rakyat India. Banglore dan Haidrabat menjadi Sillicon Valley Asia. Pembangunan industri  software yang hightech berkembang di dua daerah itu dengan sangat pesat karena mereka memenangkan daya saing global. Para investor dari Eropa dan Amerika Serikat menanamkan modalnya kesana dengan sumber daya manusia sebagian besar orang India. Para investor memilih sebagai tujuan investasi karena harga outputnya bisa kurang dari setengah bila dibandingkan dengan harga di Eropa dan Amerika Serikat. Lihat pula transformasi struktur ekonomi dan sosial yang terjadi di Timur Tengah yang biasanya dicap sebagai negara dan masyarakat yang kolot oleh dunia Barat. Lihat bagaimana perkembangan di Dubai misalnya, yang menjadi pusat perdagangan internasional untuk kawasan Timur Tengah yang menjadi jembatan yang menghubungkan Timur Tengah dengan Eropa dan Amerika. Lihat pula bagaimana Cina sekarang menjadi pusat perhatian dunia, menjadi super power baru dalam bidang ekonomi. Bagaimana kita tidak takjub, Cina memiliki cadangan devisa lebih dari 800 miliar USD (tidak termasuk Hongkong), dan jika digabung dengan Hongkong, hampir mencapai 1 triliun USD. India memiliki cadangan devisa yang juga lumayan, sekitar 135 miliar USD. Indonesia cadangan devisanya pada saat ini mencapai sekitar 35 miliar USD. Malaysia memiliki cadangan devisa dua kali dibandingkan Indonesia. Gambaran di atas merupakan salah satu indikator ketahanan ekonomi nasional.

Mengapa sentimen anti asing muncul?

Meskipun Pemerintah berusaha mengejar ketinggalannya dalam menarik investasi dari luar negeri dan meningkatkan daya saing nasional, tetapi faktor keamanan terhadap investasi cukup rawan. Ini merupakan ancaman yang riil terhadap para investor. Dunia internasional, bahkan kita di dalam negeri tidak dapat mengerti, mengapa misalnya berkali-kali selama dua tahun terakhir ini aksi-aksi sepihak dengan menggunakan kekerasan terjadi di kompleks pertambangan Newmont di NTB.

Camp-camp pekerja dalam kompleks pertambangan itu baru-baru ini dibakar oleh massa dan tampak nyata aparat keamanan tidak berbuat apa-apa. Apakah polisi disana tidak sanggup sama sekali menghadapi aksi kekerasan semacam ini yang justeru menghancurkan image internasional yang dengan susah payah kita bangun bahwa Indonesia adalah negara yang aman untuk tujuan investasi. Apakah aparat keamanan tidak dapat menggunakan gas air mata atau water canon yang dimanapun juga di dunia dipakai jika menghadapi demonstrasi massa yang menggunakan kekerasan serta mengancam keamanan dan ketertiban umum. Tindakan kekerasan sepihak semacam ini atas nama apapun juga, tidak akan menguntungkan kepentingan nasional, bahkan merusak citra Indonesia di mata internasional. Bukan tidak mungkin, di tengah-tengah tingkat pengangguran yang tinggi saat ini, massa mudah digerakkan oleh "tangan nakal" sekedar untuk tujuan dan ambisi politik dengan mengatasnamakan keadilan yang absurd. Tentu perjanjian dengan Freeport, Newmont, dan lainnya dapat direnegosiasi persayaratan-persyaratannya jika kita memiliki alasan yang objektif dengan tetap mengindahkan aturan perjanjian internasional dan jaminan keamanan investasi.

Elit kita hendaknya menjaga diri, jangan terbawa arus melontarkan pernyataan-pernyataan yang emosional dengan "tutup ini dan tutup itu" sebagai tindakan sepihak guna mencari popularitas sebagai awal kampanye yang prematur. Sikap kedewasaan dan kenegarawanan perlu ditampilkan meskipun oleh politikus yang selalu berusaha mencari pengaruh. Meskipun tampak vokal dan dengan alasan keadilan, tetapi cara-cara seperti ini justeru akan kontra produktif terhadap kepentingan nasional kita dalam jangka menengah dan panjang. Untuk menggarap Blok Cepu misalnya, diperlukan investasi yang tidak kecil untuk mengeksploitasi 40 sumur dan total investasi yang dibutuhkan mencapai hingga 2,5 miliar USD. Masyarakat setempat tampak menerima kedatangan investor Exxon secara bersahabat. Tentu mereka mengharapkan, investasi ini dapat meningkatkan taraf hidup, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan roda perekonomian di daerah itu.

Negara ini memang negara berdaulat, kita berhak untuk melakukan renegosiasi semua perjanjian yang masih berlaku, guna memperoleh hasil yang lebih menguntungkan, tetapi harus tetap mengacu pada kaidah-kaidah hukum internasional dan jangan mengambil tindakan sepihak atau unilateral. Apakah kita harus berguru kepada Cina, India, dan Malaysia? Kita dapat memetik pelajaran dari mereka sebagai bahan perbandingan. Sebenarnya kita memiliki resources, tenaga-tenaga ahli dan pemikir yang cukup handal, jika kita berkehendak mendahulukan kepentingan nasional dengan mengkapitalisasi sentimen nasionalisme untuk kemajuan masyarakat, bangsa dan negara.


Oleh: Mar ie Muhammad
Bisnis Indonesia - Senin, 3 April 2006
Solusi Kesalahan Mengetik Artikel
24