ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis   edisi 121 jumat 25 agustus 2006,  po box 49 jkppj 10210

esei Rantai Kekerasan di Timor Lorosae Terus Berlanjut
Selma W. Hayati

Sabtu, 29/04, pagi sekitar jam 7.00 jalanan Ailoklaran menuju Radio Timor Kmanek (RTK) mulai dilewati beberapa mobil yang penuh dengan penumpang dan barang-barang keperluan sehari-hari, termasuk kasur.  Terlihat seorang ibu menggendong bayinya diikuti lima anaknya berjalan tergesa-gesa dengan wajah ketakutan.  Igo, 7, di depan warung kecil di sudut jalan asyik bercerita bunyi tembakan yang ia dengar dari arah sungai di Ailoklaran.

Kesaksian
Anjuran Presiden Xanana, PM Alkatiri, juga Presiden Parlemen dan konvoi F-FDTL dan PNTL di awal Mei kepada para pengungsi untuk kembali ke rumah mereka karena situasi telah aman dan jaminan keamanan 24 jam oleh F-FDTL & PNTL, tak mampu menyurutkan ketakutan sebagian besar mereka yang tinggal di tempat-tempat penampungan sementara. Justru rasa takut untuk kembali ke rumah dijawab dengan peristiwa berdarah di tanggal 23-25 Mei.

            ‘’28 April, sore, anak saya melihat seorang supir mikrolet dipukuli dengan kayu. Ia juga melihat tujuh orang diikat kaki dan tangannya dan dilempar ke truk.  Ia biasa saja melihat kejadian itu, seolah-olah ia memang harus melihat pemukulan itu.  Ee..ee..Ia malah ikut-ikutan. Pakai ketapel, ia arahkan ketapelnya itu ke supir mikrolet itu.  Ini tidak sehat buat anak-anak saya.  Saya sendiri masih punya bayi, masih harus menyusui, yaa…harus lari.  Tembak-tembakan itu terjadi di depan rumah kami.  Kami masih simpan selongsong peluru itu,’’ kata seorang ibu yang memilih lari, sambil menggendong bayinya berumur 9 bulan, melewati ladang di belakang rumahnya di Rai Kotu untuk sampai di Don Bosco.

Sejak Jumat, 28/04 ia bersama suaminya, dan empat anak laki-lakinya tinggal di Don Bosco. 

‘’Kami lihat satu anak UNPAZ ditembak di sebelah Don Bosco, satu lagi di bukit. Anak-anak semua di sini mendengarkan bunyi tembakan, melihat F-FDTL yang mengarahkan moncong senjatanya kemana-mana, ke kami, masyarakat biasa ini,’’ ceritanya, seolah-olah tak mau menyelesaikan kalimatnya.

Don Bosco berbeda dengan hari-hari sebelumnya.  Semua halaman dan aula besarnya dipenuhi oleh anak-anak yang berlari-lari ke sana kemari, ibu-ibu yang menanak nasi, memasak sayur, tiduran, mengambil air, menggendong anak-anak dan bayi mereka, anak-anak muda yang mengobrol santai, avo yang mamar malus, dan bapak-bapak yang asyik mengasuh anak-anak, mengobrol serius tentang bagaimana mereka harus lari, isu-isu yang mereka dengar, dan kejadian yang mereka alami sehingga mereka memutuskan untuk lari ke Don Bosco. 

‘’Gereja saja tempat yang bisa diharapkan membantu kami.  Mereka tidak dikontrol Pemerintah dan dekat dari rumah kami,’’ kata Manuel yang sehari-harinya bekerja di organisasi non-pemerintah internasional di Dili.

Terlihat juga di malam hari, para anggota PNTL yang baru menyelesaikan tugas mengunjungi keluarganya.  Yang mencolok adalah kehadiran mobil Tata di halaman parkir belakang aula Don Bosco, katanya keluarga staf Kementerian Kehakiman.  Bagaimana ada keadilan, kalau mereka juga lari seperti kami, pendapat ini sempat dilontarkan oleh salah seorang tiu.  Tak satupun terlihat tokoh dan keluarga elit politik di pemerintahan maupun elit partai politik tinggal sementara di Don Bosco. Yaa, kami takut, orang besar dijaga PNTL atau sekuriti Chubb atau Maubere, kami rakyat kecil ini harus cari selamat sendiri, kata Marcus dengan serius. 
***

Berlanjutnya Rantai Kekerasan & Trauma
Indonesia mewariskan rantai kekerasan dan trauma yang sulit untuk dipatahkan oleh elit politik, kebijakan pemerintah, dan masyarakat.   Di sisi lain, peristiwa berpindahnya penduduk Dili pada 2 Januari tahun lalu karena isu tsunami telah memberikan pelajaran kepada kita bagaimana mesin isu bekerja dengan cepat dan berdampak pada masyarakat Dili.

Kehebatan mesin isu itu kembali ditunjukkan oleh masyarakat Dili dan 12 distrik lain setelah Taur Matan Ruak mengumumkan pemecatan terhadap 591 anggota FFDTL.  Mesin isu itu memproduksi dan mengalirkan isu-isu negatif mengenai rencana dan bentuk perlawanan vertikal dari 591 anggota FFDTL yang mengajukan keluhan ketidakadilan di dalam institusi FFDTL.

Tak seorang pun pejabat pemerintah, partai politik, dan tokoh-tokoh masyarakat memperhatikan hubungan yang kuat antara kondisi trauma yang melekat pada masyarakat umum dan bekerjanya mesin isu tersebut. 

Sebaliknya, trauma dan rasa takut masyarakat umum (public fear) terhadap kekerasan struktural itu sendiri diabaikan oleh para pengambil keputusan.  Pada awalnya keputusan pemecatan itu yang memegang peranan paling penting dalam penciptaan isu-isu, melahirkan rasa takut, dan membangkitkan kembali trauma masyarakat.

Ironisnya, para elit oposisi dan pemerintah yang sebenarnya juga diliputi rasa takut, justru bermain dengan lihai menciptakan perang urat syaraf yang mempertebal rasa takut dan kreativitas masyarakat umum dalam menciptakan isu-isu. Contoh, perdebatan mengenai korban yang meninggal dunia dari operasi penembakan oleh FFDTL di Tacitolu, 28-29/04; pihak petisioner mengklaim korban yang meninggal dunia sebanyak 60 orang; pada awalnya Pemerintah mengklaim hanya 5 korban meninggal; selanjutnya Kantor Provedor HAM menyatakan 34 orang meninggal; dan partai oposisi terbesar kedua tanpa investigasi menyatakan 100 korban.

Jatuhnya korban pada hari Jumat, 28/04 dan Sabtu, 29/04 menambah daftar panjang diproduksinya kembali kekerasan struktural oleh institusi keamanan; keluhan ketidakadilan yang diajukan oleh Salsinha dkk melahirkan rasa takut pada masyarakat umum, berubahnya konflik vertikal menjadi konflik horizontal, mengungsinya masyarakat umum terutama perempuan dan anak-anak, dan penggunaan alat-alat represif.

Tercatat, Presiden Xanana, Perdana Menteri Alkatiri, Ramos Horta, Rogerio Lobato, Paul Martins memberikan seruan kepada masyarakat untuk tenang dan kembali ke rumah masing-masing, juga tindakan pengamanan kota oleh institusi keamanan tak mampu membuat masyarakat percaya dan mengikuti seruan mereka.  Seruan dan pengamanan kota oleh tentara dan polisi internasional (bukan di bawah PBB) hanyalah penyelesaian sesaat yang tidak menyentuh kondisi dasar masyarakat, yaitu masyarakat yang telah capai dengan kekerasan struktural dan trauma.

Seperti tahun lalu dengan isu tsunami, PNTL mengefektifkan Pasal Penghasutan KUHP untuk menangkap beberapa orang yang dituduh sebagai pencipta isu/rumor yang mengganggu stabilitas nasional. Tak mempan, mesin isu atau rumor tetap saja gencar mematahkan akal sehat.  Sisi lain, mencari tahu siapa yang menimbulkan isu-isu kekerasan tak akan membantu menyembuhkan trauma yang baru saja timbul dan justru bertambah dengan aksi FFDTL di dua hari itu, 28/4 dan 29/4

***
Proyek & Program: Jauh dari Akar Masalah
‘’Saya datang dengan ayah dan tetangga dari aldeia Rai Hun pada hari Jumat jam 5 sore ketika saya dengar tembak-tembakan, banyak sekali. Menakutkan. Waktu kami lari, Mama di rumah sakit nasional,  melahirkan adik laki-laki Sabtu malam.  Seminggu kami tidak sekolah karena bapak ibu guru kami takut datang ke sekolah,’’ kata Ester de Fatima, 11.
 
Berapa duit yang dihabiskan untuk program-program kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan Kantor Promosaun Iqualidade, UNDP, organisasi-organisasi non-pemerintah, dan badan-badan PBB yang lain? Berapa USD telah dihabiskan dan berapa kali pelatihan mengenai jender, resolusi konflik, peran perempuan dalam politik, telah diadakan sejak 1999, baik oleh Pemerintah, partai politik, maupun organisasi-organisasi non-pemerintah?  

Tanpa mengesampingkan kerja-kerja yang selama ini telah dibangun, sangatlah perlu merefleksikan kerja-kerja itu dengan sebuah pertanyaan: apakah hasil ratusan pelatihan itu mampu mematahkan ketakutan dan trauma publik di dalam situasi ketakutan massa,  seperti yang terjadi di masyarakat Timor Lorosae?  Satu-satunya upaya Pemerintah dalam mengatasi masalah kejiwaan adalah Program Saude Mental (Kesehatan Mental) selama kurang lebih tiga tahun, sayangnya telah selesai tahun lalu. 

Selama dua hari mengunjungi kamp pengungsian Don Bosco, mereka yang berasal dari Tacitolu dan Rai Kotu tak dapat melepaskan trauma dan rasa takut dari peristiwa 28 & 29 April.  Tiap kali bertemu mereka, para pengungsi lokal itu menceritakan berulang-ulang kejadian yang mereka alami.  Bagi mereka, bercerita dipakai sebagai cara untuk mengusir rasa takut dan trauma.  Mayoritas mereka adalah kaum ibu dan anak-anak. 

Kerja-kerja domestik, seperti memasak nasi dan sayur, menyiapkan susu instant, mengambil air dari tangki yang tersedia, dan mengasuh anak tetap dilakukan oleh kaum ibu yang mengalami trauma dan menanggung beban rasa takut.  Bagaimana dengan para bapak? Tentu saja pernyataan pemaaf yang muncul dari kita adalah kerja-kerja penyetaraan beban kerja antara laki-laki dan perempuan membutuhkan waktu yang lama, bisa dua-tiga generasi, tak semudah membalik tangan. 

Kamp-kamp pengungsi mulai penuh dengan bantuan kemanusiaan: pembagian bahan makanan dan non bahan makanan, air bersih, tenda dengan nama masing-masing organisasi terpampang di tangki air, pagar, dan tenda.  Proyek-proyek baru badan PBB dengan banyak staf internasional baru (yang tak tahu mengenai Timor Lorosae dan kerja-kerja yang telah dilakukan pasca 99) mulai menjamur, misalnya perlindungan terhadap anak-anak yang selama ini gencar dilakukan oleh NGO lokal dengan sumber daya terbatas, mulai dilakukan oleh UNICEF, tanpa menyentuh problem trauma yang telah melekat sejak lama.  

Beberapa saat badan-badan PBB mengambil alih koordinasi bantuan kemanusiaan dari Kementerian Solidaritas yang sejak awal bekerja keras dengan NGO internasional dan kemudian diikuti oleh NGO lokal.  Kementerian Solidaritas harus sedikit berusaha memimpin kembali koordinasi itu dari tangan badan-badan PBB.

Dalam kondisi yang sulit secara psikologis, para pengungsi terutama perempuan rentan sekali terhadap stress dan kekerasan.  Beberapa percobaan perkosaan telah terjadi paling sedikit di dua camp.  Sesaat setelah kejadian memang korban secara perseorangan mendapatkan perawatan dan konseling, tapi untuk kelanjutannya dalam jangka panjang dan kembali pada pertanyaan, bagaimana Pemerintah dan organisasi-organisasi non pemerintah yang ada mampu mengatasi penyakit psikologis massal dan rasa takut publik pasca penjajahan Indonesia dan kejadian-kejadian kekerasan dalam empat bulan terakhir.

Berapa lama waktu tak bisa dipastikan kapan masyarakat Timor Lorosae mampu menghentikan dan membebaskan diri dari rantai kekerasan dan trauma ini.  Kutipan pengalaman dari beberapa mereka yang terpaksa meninggalkan rumah mereka menunjukkan generasi seusia Ester (11) dan Igo (7) telah melihat dan merekam kekerasan di sekitar mereka.  Mereka tumbuh dalam situasi nasional yang tidak mampu menghentikan rantai trauma, rasa takut publik, dan kekerasan itu sendiri dan tidak dihargainya akibat konflik itu kepada para korban di masa sekarang dan mendatang, baik psikologis maupun fisik.

Sisi lain, di tengah situasi perekonomian yang buruk, berapa orang yang tergantung hidupnya dari gaji 591 orang F-FDTL yang dipecat itu, terutama anak-anak dan ibu-ibu yang tidak mempunyai penghasilan sendiri, berapa anak yang berkurang jatah susunya karena ayahnya tidak bekerja lagi, berapa orang generasi muda yang tidak bisa membayar biaya SPP di universitas swasta yang maha mahal karena kakak dan orang tuanya kehilangan pekerjaan?  Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak pernah terpikirkan oleh mereka yang mengatakan bahwa pemecatan 591 anggota F-FDTL adalah masalah ringan dan sehingga tidak perlu memunculkan pertanyaan-pertanyaan itu sebagai beban.

Sementara itu selama protes dua hari di akhir April lalu, para pedagang menengah mengeluh bahwa mereka rugi karena protes itu (baca STL, 25-26/04, TP,26/04) tanpa didukung oleh perhitungan nominal yang nyata.  Pemerintah dan para pengusaha selalu hanya memperhitungkan biaya ekonomi dari sisi kerugian. Pemerintah tidak  memperhitungkan biaya psikologis yang dialami oleh mereka yang ketakutan, lebih-lebih para ibu dan anak-anak. 

Ami husu communidade sira fila ba uma, situasaun seguru ona (Kami minta masyarakat kembali ke rumah masing-masing, situasi sudah aman).

Kata-kata para pembesar negara ini memang akan mampu memulangkan para pengungsi, tetapi seruan ini tidak akan menghilangkan rantai kekerasan, trauma, dan kesehatan psikologis seseorang atau sekelompok masyarakat menyikapi kekerasan.
*** Dili, 230806
           
Tiu: paman
Avo: kakek, nenek
Mamar malus: makan sirih

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

komentar Masyarakat Masa Depan? Liston P. Siregar

cerpen Merengkuh Rembulan Sugianto Thoha

ceritanet
©listonpsiregar2000

UNTUK BAYI & ANAK

ADD-ADHD / Anak Hiperaktif

Autism & Asperger’s syndrome

Anak Penakut, Minder, Cengeng

Anak Pemarah, Suka Mengamuk

Berhenti Mengompol

Menambah Nafsu Makan

Metode Memilih Jenis Kelamin Bayi

Motivasi Anak / Solusi Anak Malas

Musik Untuk Menenangkan Bayi

Musik Untuk Kecerdasan Janin/Bayi

Mengembangkan Kecerdasan Anak

 

KESEHATAN & PENYEMBUHAN

Penyembuhan Alami

Meningkatkan Kekebalan Tubuh

Mengatasi Insomnia Kronis

Menormalkan Tekanan Darah

Mengobati Sakit Kepala & Migrain

Menyembuhkan Vertigo

Sakit Maag / Asam Lambung

Mengobati IBS / Iritasi Usus Besar

Perawatan Pasca Stroke

Mengobati Alergi

Menyembuhkan Asma

Mengurangi Nafsu Makan

Mengatasi Sindrom Menstruasi

Meringankan Gangguan Kehamilan

Mengatasi Rasa Sakit & Nyeri

Berhenti Merokok

Kecanduan Alkohol

Mengatasi Berbagai Kecanduan

Alzheimer / Kepikunan / Lansia

 

MASALAH PSIKOLOGIS

Kecemasan / Anxiety Disorder

Menyembuhkan Depresi

Manic Depression / Bipolar Disorder

Merubah Kebiasaan Buruk

Trauma / Pengalaman Buruk (PTSD)

Fobia, Rasa Takut Berlebihan

Sembuh Dengan Memaafkan

Mengobati Obsessive Compulsive

Mengatasi Panic Attack

Mengubah Sifat Mudah Marah

Menghilangkan Stress & Ketegangan

Terapi Gagap / Gangguan Bicara

 

MENINGKATKAN KINERJA OTAK

Focus, Konsentrasi, ADHD Dewasa

Meningkatkan Kreativitas

Meningkatkan Daya Ingat / Memori

Menjadi Lebih Analitis, Logis, Rasional

Motivasi, Energi, Semangat Tinggi

Menjadi Periang & Humoris

Meningkatkan Hasil Belajar

Mempercepat Belajar Bahasa

Atasi Rasa Kantuk / Kerja Lembur

CD Aktivasi Otak "NEW"

 

PENAMPILAN & KECANTIKAN

Program Pelangsingan Alami

Peremajaan Kulit / Kesehatan Kulit

Munculkan Inner Beauty

Memperindah Payudara

Membangun Kepribadian Karismatik

Membantu Menambah Tinggi Badan

Rambut Rontok, Ketombe, Uban

 

MEDITASI & RELAKSASI

Tidur Nyenyak & Berkualitas

Melahirkan Dengan Rileks & Mudah

Musik Relaksasi Dari Surga

Musik Untuk Memperdalam Trance

Memasuki Kondisi Meditasi

Memasuki Kesadaran Universal

Sensasi Keluar Dari Tubuh

Membantu Penyaluran Energi

Menarik Apapun Yang Anda Inginkan

 

PENGEMBANGAN DIRI

Peak Performance

Meningkatkan Kepercayaan Diri

Percaya Diri Mendekati Wanita

Public Speaking / Demam Panggung

Menghilangkan Mental Block

Memunculkan Bakat Terpendam

Mengatasi Pesimis / Pikiran Negatif

Meningkatkan EQ dan SQ

Memiliki Kepribadian Yang Fleksibel

Gairah Seks Pria / Atasi Impotensi

Mengatasi Frigiditas

Bermain Golf Dengan Hebat

Meningkatkan Daya Tahan

Menerima Diri Sendiri Apa Adanya

 

           

 


Holistic Solution Center | Hypnosis Association | EFT Indonesia | Psikoterapis | Bawah Sadar | Belajar Hipnotis | Layanan Hipnoterapi | Belajar Hipnoterapi | Buku Hipnotis Gratis | Hypnosis Training | Organisasi Hipnosis | Master Hipnotis | Solusi Salah Ketik | Fakir Magic | Sekolah Sulap | Psikologi Indonesia | Terapi Musik | Aktivasi Otak | Neurotherapy | Pengobatan Herbal | Artikel Kesehatan | Pakar Seks | Terapi Seks | Master Seks | Obat Ejakulasi Dini | Perusahaan Furniture | Master Indonesia | Toko Barang Antik | Terapi Tertawa | Kota Jepara | Pelatihan Internet Marketing