Obat Kuat, Obat Ejakulasi Dini

 

21 Penghuni LP Paledang Terinfeksi HIV

Bogor, Kompas - Sebanyak 21 tahanan dan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II A Paledang, Kota Bogor, diduga kuat terinfeksi virus HIV. Sebagian besar (20 orang) adalah tahanan dan narapidana kasus penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya yang secara acak terpilih sebagai sampel pemeriksaan. Seorang lagi adalah narapidana yang diketahui positif terinfeksi HIV saat diperiksa di rumah sakit.

Sebelumnya, kasus HIV/ AIDS telah menewaskan dua narapidana di LP Paledang pada bulan Oktober 2002-Maret 2003. Keduanya meninggal di RS PMI Bogor dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Hingga Senin (9/6), mereka yang diduga kuat dan terinfeksi HIV itu masih tinggal dan berbaur dengan 1.165 narapidana dan tahanan lainnya. Belum ada perhatian serius dari pihak terkait, baik dari Departemen Kesehatan maupun dari Departemen Kehakiman, untuk mencegah kemungkinan terjadinya penularan akibat pola seks menyimpang yang kemungkinan besar mereka jalani di LP.

Padahal, Kepala Pengamanan LP Paledang Ibnu Chuldun mengakui adanya kemungkinan terjadinya perilaku seks menyimpang antarsesama narapidana atau sesama tahanan. "Inilah yang kami khawatirkan karena kami jelas tidak bisa mengontrol perilaku mereka," katanya.

Menurut Ibnu, Kepala LP Rachmat Tanoe tanggal 20 Februari 2003 sudah mengajukan surat permohonan perhatian yang antara lain ditujukan kepada Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (HAM), Departemen Kesehatan, Wali Kota Bogor, Bupati Bogor, dan Pemerintah Kota Depok, serta Ketua DPRD Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Depok. Namun, hingga kini belum ada perhatian serius, baik berupa program penyuluhan mengenai apa itu HIV, bagaimana penularannya, dan bagaimana cara pencegahannya, maupun upaya untuk mengisolasikan.

Hasil survei

Menurut seorang petugas medis LP Paledang, data mengenai infeksi HIV itu ditemukan dari hasil beberapa kali pemeriksaan Dinas Kesehatan Kota Bogor terhadap 94 narapidana dan tahanan kasus narkoba. Di LP Paledang, waktu itu terdapat sekitar 400 tahanan dan narapidana kasus narkoba. Dari jumlah itu, sebanyak 94 orang diambil sampel untuk diperiksa darahnya.

Pada pemeriksaan bulan Juli 2002, diketahui empat narapidana dan tahanan terinfeksi HIV. Satu di antaranya wanita.

Survei kedua dilakukan bulan Desember 2002. Hasilnya sebanyak 16 narapidana dan tahanan terinfeksi HIV. Satu di antaranya wanita.

Ibnu sendiri mengaku belum tahu siapa saja narapidana dan tahanan yang terindikasi HIV itu, kecuali seorang yang pernah dirawat di RS Karya Bhakti, Bogor.

Berdasarkan data hasil penelitian dari Balai Pengembangan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat tanggal 27 Agustus 2002 dan 3 Januari 2003 yang ditandatangani dr Tintin Bartinah SpPK, terungkap bahwa dari 20 narapidana yang terinfeksi HIV itu, 18 diantaranya positif mengidap HIV, sedangkan 2 di antaranya terinfeksi HIV dan penyakit kelamin (sifilis).

Ibnu menyatakan, mereka terinfeksi HIV dari luar LP Paledang. Namun, kondisi ruang tahanan serta kemungkinan mudahnya terjadi penyimpangan seksual antarpenghuni tahanan membuat jumlah narapidana dan tahanan yang terinfeksi HIV kemungkinan bisa lebih besar.

"Dari 94 saja, yang terinfeksi 20 narapidana dan tahanan. Saya yakin, bila dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, jumlahnya bisa lebih besar dari itu. Kami sendiri juga waswas dan khawatir bagaimana kami bisa bekerja dalam situasi yang serba khawatir dan takut seperti ini," katanya.

Resah

Akibat penyebaran virus HIV tersebut, kata dia, sebagian besar narapidana dan tahanan kini resah. Mereka satu sama lain terkadang saling tuding dan menganggap bahwa temannya sudah terjangkit virus HIV.

Kecurigaan terhadap sesama penghuni LP semakin kuat begitu melihat ada salah seorang dari mereka yang sakit. Apabila kondisi fisiknya tidak lekas membaik, ia akan dijadikan bulan-bulanan oleh teman lainnya.

"Saya memahami ini. Mereka umumnya khawatir jangan-jangan teman baiknya yang ada di sampingnya yang selama ini tidur bersamanya juga terkena HIV," katanya.

Oleh karena itu, pihak LP Paledang menyayangkan sikap Dinas Kesehatan Kota Bogor yang terkesan tidak mau bertanggung jawab terhadap masalah ini. Dinas Kesehatan Kota Bogor, kata Ibnu, seharusnya tidak hanya melakukan survei untuk mencari penderita HIV, tetapi juga harus memberikan penyuluhan.

Menurut Ibnu, memang penanganan kasus penderita HIV selalu terbentur pada masalah kemanusiaan, seperti tidak diperbolehkannya penderita dan petugas LP mengetahui siapa saja yang terkena HIV. "Namun, Dinas Kesehatan Kota Bogor seharusnya melakukan penyuluhan kepada penghuni LP mengenai apa itu HIV, bagaimana penularannya, dan cara pencegahannya." (B10)

Kembali ke: MENU ARTIKEL

RELATED ARTICLE:

ARTIKEL 1
Indonesia's Low Rates Could Mask Growing Trend, UNAIDS Warns  UN Wire (9.5.03)

ARTIKEL 2
Asia Could Face AIDS Crisis

ARTIKEL 3
Survei Durex 2002: Perilaku Seks Di Malaysia

 


     


Holistic Solution Center | Hypnosis Association | EFT Indonesia | Psikoterapis | Bawah Sadar | Belajar Hipnotis | Layanan Hipnoterapi | Belajar Hipnoterapi | Buku Hipnotis Gratis | Hypnosis Training | Organisasi Hipnosis | Master Hipnotis | Solusi Salah Ketik | Fakir Magic | Sekolah Sulap | Psikologi Indonesia | Terapi Musik | Aktivasi Otak | Neurotherapy | Pengobatan Herbal | Artikel Kesehatan | Pakar Seks | Terapi Seks | Master Seks | Obat Ejakulasi Dini | Perusahaan Furniture | Master Indonesia | Toko Barang Antik | Terapi Tertawa | Kota Jepara | Pelatihan Internet Marketing