Obat Kuat, Obat Ejakulasi Dini

 

Telaah Kritis Isu Homoseksual

ISU-ISU GLOBAL

Bagi mereka yang tidak menyetujui homoseksualitas sebagai alternatif gaya hidup, buku ini bukan saja berada di pihak mereka, tapi juga menyediakan penjelasan yang cukup kritis, tajam dan komprehensif atas keberatan-keberatan yang mereka miliki. Pada bab 6 buku ini John Stott mengulas isu Pasangan Hidup Homoseksual dimana ia tidak mendasarkan keberatan-keberatannya terhadap isu ini atas pengalaman orang-orang yang sifatnya subyektif, seperti yang banyak dilakukan pengarang buku-buku serupa, melainkan mendasarkannya pada telaah kritis dan studi perikop dan ayat yang cukup mendalam, sekalipun kadang tidak luput juga oleh adanya prasangka. Selain itu ia berusaha untuk tidak terjebak oleh pandangan miring tentang stereotype gaya hidup kaum homoseksual yang biasanya dipakai oleh pengarang-pengarang Kristen untuk menyatakan ketidaksetujuan mereka. Dalam menyatakan pendapatnya, meskipun tidak selalu berhasil, John Stott berusaha untuk bersikap seobyektif mungkin. Hal ini patut dihargai.

Sekalipun demikian, tidak seperti pemecahan yang ia tawarkan terhadap isu-isu lainnya dalam buku ini, misalnya: aborsi dan perceraian, John Stott tetap memegang teguh kukuh prinsipnya yang tidak mau berkompromi. Dengan kata lain, ia tidak setuju dengan adanya restu terhadap pasangan hidup homoseksual. Pada kasus aborsi dan perceraian, ia kelihatan lebih longgar dalam hal etika. Seperti yang ia tulis sendiri, bahwa dalam isu aborsi, ia tidak mau berdiri sebagai hakim, dan sekalipun ia tidak menyetujui perceraian, namun ia masih dapat menerimanya dengan alasan-alasan yang alkitabiah, yaitu apabila si suami atau si isteri berzinah, dan apabila tidak ada lagi perbaikan hubungan antara suami-isteri tersebut yang dapat dilakukan. Pada kasus pasangan hidup homoseksual, kelihatannya John Stott justru mampu berdiri sebagai hakim. Artinya, bukan saja ia tidak menyetujuinya, namun ia juga tidak memberikan kelonggaran apapun dalam situasi atau kondisi apapun juga.

Telaah kritis atas perikop dan ayat yang ia lakukan menjadi mentah kembali ketika ia bersikap mengadu heteroseksual lawan homoseksual. Hal ini jelas, sebab pada prinsipnya ia setuju bahwa ayat-ayat di Alkitab yang secara langsung dan eksplisit berhubungan dengan perilaku seks sejenis tidak dapat disejajarkan begitu saja dengan isu Pasangan Hidup Homoseksual di jaman ini. Namun ketika ia berbicara mengenai ajaran positif tentang heteroseksual, ia kemudian membandingkannya dengan homoseksual yang menurutnya tidak memenuhi kriteria complimentary, prokreasi, iman dan pengharapan dalam Kristus. Hal ini jelas tidak adil, sebab secara tidak langsung John Stott menempatkan kaum homoseksual sebagai manusia yang dianggap tidak mampu memiliki pendamping yang sepadan hanya karena mereka sejenis, tidak sempurna karena tidak mampu memiliki keturunan dan tidak memiliki iman dan pengharapan dalam Kristus hanya karena mereka menerima orientasi seksual mereka dengan rasa syukur. Apakah benar demikian? Lalu bagaimana ia dapat menjelaskan banyaknya kaum heteroseksual yang tidak  menikah, mandul atau melakukan pembatasan kelahiran dan tidak beriman pada Kristus?

Selain itu, bagi John Stott tidak ada bentuk hubungan seksual lain yang dapat diterima Allah kecuali hubungan seksual secara heteroseksual monogami dalam pernikahan Kristen. Artinya, seks pra nikah, poligami, poliandri, kumpul kebo, homoseksualitas, promiskuitas, dan segala betuk hubungan seks lainnya diluar bentuk tadi, tidak dapat dibenarkan secara kristiani. Artinya, seorang homoseksual kristen hanya punya dua pilihan: menikah secara heteroseksual atau melajang. Suatu penyelesaian yang  cenderung dipaksakan, melihat kaum heteroseksual memiliki hak dan kebebasan dalam menyalurkan kebutuhan biologisnya terhadap orang yang mereka cintai dalam perkawinan, hanya semata-mata karena mereka heteroseksual. Ia lalu memberi contoh kaum hetersoeksual yang melajang, yang mampu menaham diri untuk tidak menyalurkan kebutuhan seksnya. Apakah betul sesederhana itu menyamakan kaum homoseksual yang tidak mampu menikah secara heteroseksual tapi tidak mampu melajang dengan kaum heteroseksual yang mampu menikah secara heteroseksual tapi mampu melajang? Bagaimana mungkin ia menggolongkan kaum homoseksual sebagai orang-orang yang harus melajang karena tidak mampu menikah?

Nampaknya, bagi John Stott, tidak ada pintu yang boleh terbuka untuk mempertanyakan, mempermasalahkan atau bersikap kritis terhadap “aturan” Allah dalam hal seksual ini yang tertulis dalam Alkitab, sekalipun dunia ini terus berubah dari jaman ke jaman. Jadi, baginya, “aturan” itu bersifat konstan, stabil, tetap dan absolut. Ia memandang traditional family value ini begitu sakralnya karena –seusia penafsirannya- dibentuk sendiri oleh Allah, sehingga tidak boleh dikutak katik lagi. Padahal, sejarah mencatat dari jaman ke jaman, aturan-aturan dalam Alkitab terus berubah dan penyesuaian dilakukan terus menerus terhadapnya, seperti peran wanita dalam gereja, perbudakan, keluarga berencana, dan segudang isu lainnya!

Yang lebih mengherankan, John Stott berpendapat bahwa pernyataan Dewan Psikiatri Amerika tahun 1973 yang menghapus homoseksualitas dari daftar penyakit-penyakit mental adalah pernyataan dari orang-orang yang sudah putus asa. Ia lalu berkata bahwa orang Kristen sadar bahwa homoseksualitas adalah suatu deviasi, penyimpangan dari norma Allah, dan karena itu bukan merupakan pertanda tatanan ciptaan, melainkan pertanda kegalauan perilaku yang mengacau. Disini jelas, ia telah  meremehkan ilmu pengetahuan, dalam hal ini psikologi, dan lagi-lagi, mengadunya dengan apa yang ia sebut “tolok ukur Allah” dan dengan berani mengatakan atas dasar pemahaman orang Kristen awam bahwa homoseksualitas itu suatu deviasi dan perilaku yang mengacau, sekalipun kita tahu bahwa itu lebih merupakan prasangka daripada teori yang dapat dipertanggungjawabkan. Bukankah kita perlu juga menghormati ilmu pengetahuan dan hasil-hasil temuannya yang membantu umat manusia?

Jadi kesimpulan yang saya ambil adalah: buku ini tidak gay-friendly. Hal ini dapat dimengerti, karena John Stott bukanlah seorang teolog dari aliran yang progresif/liberal yang melihat Alkitab bukan sebagai buku aturan yang membelenggu dan memenjarakan umat dalam budaya abad-abad pertama. Sekalipun demikian, buku ini layak dibaca sebab dalam membahas berbagai isu penting di abad ini, John Stott telah melakukan penelaahan Alkitab yang cukup dalam dan kontekstual, setidaknya dari sudut pandang aliran Injili yang tradisional.

 

(Judul Buku : Isu-isu Global, Menantang Kepemimpinan Kristiani, Penilaian Masalah Sosial dan Moral  Kontemporer,  Judul asli: Issues Facing Christians Today, Pengarang: Jon Stott, Jumlah halaman: 479, Edisi pertama: 1984, Bahasa: Indonesia, Penerbit: Yayasan Komunikasi Bina kasih / OMF, Alamat penerbit: Jl. Letjen Suprapto 28, Cempaka Putih, Jakarta 10510, No. D. 805/9, Website penerbit: , http://www.ipublish.com, Rating PdC: ***)

KEMBALI KE: MENU BUKU

 

 



     


Holistic Solution Center | Hypnosis Association | EFT Indonesia | Psikoterapis | Bawah Sadar | Belajar Hipnotis | Layanan Hipnoterapi | Belajar Hipnoterapi | Buku Hipnotis Gratis | Hypnosis Training | Organisasi Hipnosis | Master Hipnotis | Solusi Salah Ketik | Fakir Magic | Sekolah Sulap | Psikologi Indonesia | Terapi Musik | Aktivasi Otak | Neurotherapy | Pengobatan Herbal | Artikel Kesehatan | Pakar Seks | Terapi Seks | Master Seks | Obat Ejakulasi Dini | Perusahaan Furniture | Master Indonesia | Toko Barang Antik | Terapi Tertawa | Kota Jepara | Pelatihan Internet Marketing