Antara Kepribadian Anak dan Kebiasaan Orang Tua !

 

 

Fansuri, 23 thn, Wiraswasta, Belum Menikah, Sidoarjo. 25 Februari 2006.

 

To the point aja...!

Sy sejak 5 bulan yang lalu puyk hub.dengan seseorang yang sekarang masih sangat baik, dia setia bgt sama saya sy diperlakukan sebagaimana suaminya dalam hal kesetiaannya (bukan berarti tidur bareng)dia nyucikan pakaian saya, mbangunin saya makan bareng alhamdulillah dari pihak orang tuanya juga sangat setuju klo' dia pyk hubungan dengan saya.tp saya ingat hadist nabi, yang inti dari hadis tersebut adalah pilihlah pasangan dari keturunan orang baik-baik. maaf saja orang tua punyak kebiasaan yang kurang baik. menurut mas gimana?

 

 

MasIdan.

 

Kultur Keluarga berperan besar membangun Kepribadian seseorang !

Bangunan jiwa seseorang akan mulai terbangun dari mana ia dibesarkan dan dididik. Kebiasaan-kebiasaan yang menyangkut cara bersikap dan berprilaku dalam sebuah keluarga merupakan cermin sebuah kultur ( atau baca : kebiasaan ) yang ada dalam keluarga tersebut. Adalah wajar dan masuk akal jika kepribadian seseorang tak akan jauh berbeda dengan apa yang menjadi kebiasaan atau kultur keluarganya.

 

Akan tetapi perlu diingat juga bawasannya kultur keluarga juga merupakan bagian dari kultur yang berkembang pada masyarakat di mana mereka tinggal. Kultur masyarakat maupun keluarga yang ada di dalamnya, pada dasarnya sulit berubah jika dihadapkan dengan kultur masyarakat yang lainnya. Sebab kultur atau kebiasaan-kebiasaan yang terjadi dalam masyarakat umumnya merupakan kultur atau kebiasaan yang bersikap lokal atau kedaerahan ( primordial ). Dan kebiasaan-kebiasaan yang bersifat kedaerahan, umumnya merupakan bentukan dari kebiasaan-kebiasaan yang turun temurun. Sebagaimana kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga, juga menjadi masuk akal jika terbentuk secara turun menurun, walaupun tak harus sama persis, namun juga tak jauh dari asalnya.

 

Mengingat sebagai kebiasaan yang turun-menurun dan bersifat kedaerahan saja, maka kultur tersebut tidak menjadi universal atau bisa diterima atau dipahami secara luas oleh masyarakat lainnya. Jadi, bisa saja kebiasaan yang baik menurut mereka, belum tentu baik menurut masyarakat lainnya. Dan tidak baik menurut pandangan mereka, belum tentu tidak baik menurut pandangan Anda.

 

Jadi bisa saja penilaian anda salah tentang kebiasaan yang kurang baik dalam keluarga atau orang tuanya, adalah kebiasan kurang baik menurut mereka.

 

Namun yang ingin kami tekankan kepada anda ini, adalah kepribadian seseorang yang terbentuk dari kultur keluarganya, bukan merupakan harga mati untuk tidak bisa dibangun ke arah pandangan ideal anda. Sebagaimana pandangan anda yang baik menurut penilaian anda.

 

 

Moral Agama adalah segala-galanya !

Seseorang atau pribadi yang mempunyai ketaatan terhadap agamanya, menjadi jaminan yang bersangkutan mempunyai moralitas yang tinggi dalam prilaku dan tindakannya. Moralitas Agama inilah, yang menjadikan seseorang mempunyai pribadi yang akan banyak berbeda ( terlepas ) dengan kultur di mana mereka dibesarkan dan dididik.

 

Hal ini bisa dimaklumi adanya, mengingat kultur Agama mempunyai kecenderungan universal. Suatu kultur yang cenderung dapat diterima nilai-nilainya oleh sebagian besar masyarakat, khususnya bagi para pemelukya. Sehingga, nilai-nilai baik dan buruknya mempunyai standar yang sangat luas dan dapat diterima serta dipahami sebagai nilai-nilai kebaikan dan keburukan.

 

Oleh karena itu, seseorang memilih pasangan berdasarkan standar-standar agama yang dianutnya, sangat memungkinkan seseorang atau pasangan tersebut akan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang dulu mungkin dipandang sebagai kebiasaan yang tidak buruk.

 

Dengan demikian pemilihan jodoh atas pertimbangan moral agama, sebagai rujukan atas apa yang akan dibangun atau dibina dalam kehidupan keluarganya nanti, menjadikan seseorang menjadi tercerabut dari kebiasaan-kebiasaan yang dulu dijadikan pandangannya.

 

Jadi, kalau anda memilih pasangan anda karena seseorang tersebut mempunyai ketaatan terhadap agama yang dianutnya, maka calon anda bisa dipastikan kecil kemungkinan mempertahankan kebiasaan-kebiasaan buruk yang dulu tertanam dalam sistem nilainya ( yang telah menjadi kebiasaan orang tuanya ). Sehingga, si diapun akan mempunyai kepribadian yang lain dari yang dulu membesarkannya.

 

Sehingga pemilihan jodoh, berdasarkan pada pertimbangan moral agama yang dianut seseorang, sebagai sebuah ketaatan, maka sangat bisa dipastikan bahwa pribadi yang dimiliki orang tersebut menjadi tidak akan sama dengan apa yang telah menjadi kebiasaan orang tuanya !

 

Akan tetapi maaf, jika seseorang tidak sedikitpun mempunyai ketaatan terhadap agama yang dianutnya, maka bisa dipastikan pula bahwa kepribadian seseorang, tidak jauh berbeda dengan kebiasaan yang dilakukan orang tuanya !

 

 

Secara umum seorang istri lebih cenderung menyesuaikan dengan kepribadian suaminya !

Sebagaimana karakter dan kejiwaan seorang wanita dalam mencintai seseorang, mereka akan memberi apresiasi terhadap pandangan-pandangan dan kepribadian orang yang dicintainya. Lepas dari salah dan benarnya sebuah pandangan yang dimiliki orang yang dicintainya, atau buruk dan baiknya kepribadiannya, wanita cenderung melihat nilai-nilai positif yang ada pada orang yang dicintainya.

 

Maka jangan heran, ketika kita melihat adanya perseteruan ataupun perbedaan pendapat di antara suami-suami mereka, yang mereka ( istri atau kekasihnya ) lakukan pertama kali adalah membela suami-suami mereka sebagai sebuah dukungan akan kebenaran yang dilakukan suami mereka. Mereka seakan tidak melihat atau mungkin tidak mau tahu apakah tindakan suami mereka sudah benar atau salah.

 

Atau contoh lain yang sering kita lihat dan kita dengar, banyaknya kasus-kasus kriminal yang telah melibatkan istri atau kekasih mereka dalam kasus tersebut. Di sisnilah bukti secara umum bahwa wanita cenderung menyesuaikan atau bahkan mendukung apa yang menjadi tindakan atau pandangan orang yang dicintainya, tanpa mau tahu apakah tindakan tersebut benar atau salah.

 

Uraian di atas, adalah bukti bahwa wanita cenderung mendukung atau menyesuaikan dengan kepribadian orang yang dicintainya atau suami mereka.

 

Dengan demikian, anda sebagai lelaki, masih ada peluang besar untuk bisa membangun kepribadian calon istri sebagaimana yang anda inginkan. Sehingga, kekawatiran-kekawatiran yang ada menjadi tidak mengandung masalah yang perlu dikawatirkan. Dan kalau anda sudah siap untuk menikahinya, menurut hemat kami, tampaknya tak ada masalah untuk bisa dipersiapkan dan direncanakan.

 

Selamat mempertimbangkan !

 

 

Salam !

Ingat jangan sampai ketinggalan satu topikpun, karena disana banyak rahasia hidup yang telah banyak dilupakan oleh sebagian besar orang. Dijamin ! Kalau anda bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua topik yang ada, Niscaya serasa jiwa anda baru bangun dari tidur yang terlalu lama !. Terimakasih !